Arrgghh


Di kemarau terseok menyeret kaki
Kering ranting mencemooh sendiri
Umpatan kesalku termakan terik hari
Tidak ada yang berteman atasku
Kecuali tangis yang diam-diam terbit bersama peluh

Jauh sudah berjalan, melewati malam, kemudian hari demi hari
Tak lagi kutemui awalan jejak kemarin
Namun perjalanan ini tak kunjung pada ujung
Di tengah sesat mengasihani diri
Akankah ada akhir

Aku disini tak berarah, berusaha mencari cara
Harus kemana agar bertemu kehidupan
Tak adakah manusia dikirim tuk temani
Supaya aku tak menduga sendiri
Supaya jalanku tak dibebankan sepi

Pembatas Cerita


Halo, apa kabar? Wuah, hampir dua tahun saya nggak nulis di blog ini, boro-boro mau ngurusin. Kangen juga, ya, nulis-nulis di blog kayak gini. Well, sebenarnya udah lama banget saya kepikiran mau rajin ngeblog lagi. Tapi sekarang saya kesulitan cari materi cerita. Bisa dilihat, dulu isi blog ini begitu meledak-ledak emosinya, kebanyakan berisi curhatan pribadi. Sementara kalau sekarang kayaknya Saya agak susah kalau mau nulis begituan, jadi Saya lebih memilih sesekali menulis di Instagram. Setelah beberapa kali bercerita di Instagram, kayaknya Saya mulai tahu harus menulis apa di blog ini.


Setelah postingan ini, Saya akan menuliskan kembali beberapa tulisan (caption) Saya yang sempat Saya unggah di Instagram, juga membagi beberapa pengalaman Saya berlibur ke Bandung yang belum sempat Saya ceritakan sebelumnya, dan nggak menutup kemungkinan Saya akan membuat semacam cerita pendek atau cerita bersambung di blog ini. Mungkin kalian akan menemukan perbedaan gaya tulisan Saya yang dulu dengan yang sekarang, entah itu dari cara penyampaian per kata maupun dari segi emosinya. Apapun itu, semoga tetap bisa menarik untuk dibaca, ya! Untuk sementara, itu saja dulu yang terpikir di otak Saya dan mudah-mudahan Saya beneran bisa rutin menulis lagi disini. Hehehe.

Guru Privat Pasha


Gue inget, awal tahun tadi gue sempat jadi guru privat selama dua bulan. Yap, guru privat! Nggak percaya? Sama, sampai sekarang pun gue masih nggak percaya pernah mencatat sejarah menjadi guru privat.
Waktu itu, Minggu 4 Januari 2015 sekitar pukul sebelas siang gue dihubungi oleh Kak Juju. Dia nawarin gue untuk jadi guru privat anak SD. Kayak ditodong, gue harus ngasih keputusannya saat itu juga karena Mbak Rizki (teman Kak Juju yang juga menangani jasa privat tersebut) mau mendatangi rumah calon klien siang itu juga.
Gue bingunglah. Nggak suka anak kecil, nggak punya pengalaman, mau diajarin apa anak orang?
“Datang dulu aja, biar ketemu sama mama dan anaknya. Nego disana,” kata Kak Juju.
Ya, dari penjelasan Kak Juju, gue pikir gue masih bisa menolak tawaran kalau-kalau nanti pas disana gue merasa nggak srek. Tapi gue salah, gue kejebak sama asumsi yang gue buat sendiri. Ternyata, dengan setujunya gue untuk datang kesana, itu artinya gue juga mau nggak mau setuju untuk jadi guru privat. Dapat dilihat begitu gue datang, gue langsung disuruh ngajar saat itu juga, tanpa persiapan apapun, tanpa kemampuan apapun.
Begitu datang ke rumahnya sekitar pukul setengah dua siang, mamanya masih di jalan abis kondangan. Untungnya, si anak nggak ikut kondangan. Dia ada di rumah. Jadi, dipanggillah si anak ini untuk ketemu dan kenalan sama gue. Anaknya cowok, putih, ganteng. Untung masih kecil, kalau udah gede takutnya nanti gue malah suka. Hehehe nggak, ding, becanda.
Dia berlari kecil mendekati gue. I didn’t see something wrong with him sampai akhirnya dia memperkenalkan diri.
“Siapa namanya?” tanya gue berusaha seramah mungkin.
“Pasha.”
Gue membeku sepersekian detik. Dia menyebutkan namanya dengan lafal acha. Dia udah kelas 2 SD, umur delapan tahun, tapi ngomongnya belum lancar dan sedikit cadel.
Jujur saat itu, gue menebak-nebak apa yang terjadi sama anak ini. Setelah ngajak ngobrol satu-dua menit, gue sadar kalau masalahnya bukan cuma disitu. Gue nggak mau menceritakan detilnya, yang jelas dia beda dari teman-teman seumurannya.
Tiga jam gue berusaha untuk menjadi seorang guru dan kakak bagi Pasha. Hari itu gue masih ditemani oleh Mbak Rizki, sekaligus diberi arahan untuk proses mengajar ke depannya. As expect, gue kagoknya setengah mati. Nggak tau harus mulai darimana, nggak tau gimana ngatasin kebosenan si anak, nggak tau mesti ngapain waktu anaknya stres karena materi yang dikasih melebihi kapasitasnya.
Saat itu, perasaan gue campur aduk. Tanggung jawab bertambah, beban bertambah. Di satu sisi gue ragu, di sisi lain gue tersentuh. Sejak awal gue ketemu sama Pasha, ada rasa sayang yang tiba-tiba muncul. Gue kayak tergerak untuk melakukan sesuatu buat dia. Gue merasa harus mengambil pekerjaan ini karena gue pengen ketemu lagi sama dia dan mengajarkan lebih banyak hal. Gue pengen jadi bagian dari perkembangan dia. Pokoknya, hal-hal semacam itulah yang bikin gue optimis untuk tetap melanjutkan pekerjaan itu.
Mamanya baik. Anaknya nyenengin. Selama dua bulan itu, gue happy banget. Gue sadar gue memang belum maksimal mengajar. Gue masih suka main hape waktu ngajar, suka ngantuk sendiri, suka pengen cepet pulang, dan masih suka nggak sabaran juga. Tapi, gue bahagia karena dari Pasha, gue belajar banyak hal.
Jadi guru itu nggak mudah, guys. Apalagi untuk ngajarin anak kecil, dimana kita harus ngajarin mereka dari nol. Kita juga harus menanamkan nilai-nilai yang baik pada mereka.
Terkhusus untuk Pasha, gue benar-benar jatuh hati. Dia mungkin punya kekurangan, tapi bagi gue, dia spesial. Dia bikin gue merasa lebih hidup. Dia menumbuhkan rasa empati gue.
Gue nggak tau persis apa salah atau kekurangan gue hingga akhirnya mama Pasha memutuskan untuk menyudahi privat ini. Hanya saja, terkadang gue menyayangkan betapa dua bulan itu terlalu singkat. Gue masih pengen ketemu sama Pasha. Belajar bareng, main bareng, makan bareng, nyanyi bareng. Ah, I miss you, Pasha!

Akhir Cinta Diam-Diam

Hai, apa kabar? I wish you’re good enough to read this J Gue beberapa bulan lalu memberanikan diri untuk jujur pada seseorang. Seseorang yang sering gue jadiin objek pada tulisan-tulisan gue. Seseorang yang sangat spesial, yang telah sewindu mengisi hati dan tidak akan pergi.



Ketahuilah butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk memberanikan diri. Ketika tulisan ini sampai padamu, yakinlah, tidak hanya kau yang menganggapku konyol, gila, dan tidak tahu malu. Akupun demikian.
Dulu, waktu kita masih sama-sama memakai seragam SMP, sungguh, aku sangat menyukaimu.
Dan sekarang, ketika waktu telah jauh pergi dan berganti dengan yang baru, sepertinya, aku masih menyukaimu.
Aku tidak begitu yakin mengatakannya. Hanya saja, setelah tahun berganti tahun, aku tidak tahu bagaimana ini terjadi: hanya kau yang ada di depan mataku.
Aku tidak tahu rasa sukaku saat ini ada di batas mana. Apakah rasa suka ini lebih dari rasa suka gadis berumur dua belas tahun atau hanya sebatas rasa penasaranku saja.
Banyak hal yang telah kulewati, banyak orang yang telah kutemui. Tapi kau adalah satu-satunya yang tidak pernah lagi kutemui, namun tidak juga bisa terlewati olehku.
Kau tidak perlu menjawab apapun, karena akupun tidak bertanya apapun. Kau tidak perlu membalas perasaanku, karena aku datang bukan untuk hal itu. Aku datang untuk memastikan batas perasaanku padamu, sekaligus menyudahi semuanya. Aku tidak benar-benar yakin pesan ini dapat menyudahi semuanya, bahkan mungkin akan semakin parah, tapi setidaknya aku telah mencoba.
Setelah mengirim ini, mungkin aku tidak punya cukup keberanian untuk menunjukkan diri di hadapanmu. Namun setidaknya aku bersyukur karena dapat menyampaikan ini padamu. Jujur aku senang menjadikanmu sebagai sosok idamanku. Tidak peduli bagaimanapun kau menganggapku, aku akan tetap menempatkanmu sebagai keindahan.


Kalau diibaratkan sebuah ruangan, hati gue itu udah usang, kotor, berantakan, dan banyak barang-barang masa lalu. Saking lamanya nggak dirapiin, mungkin orang-orang juga takut untuk sekedar intip-intip, boro-boro mau ngerapiinnya dan tinggal disana. Satu hal yang pasti, siapapun nanti yang bersedia tinggal disana, dia juga harus terima bahwa ada beberapa barang masa lalu yang nggak mungkin dan nggak akan mau untuk gue buang. Yaitu, segala tentangnya.

Sewindu


Sewindu, aku mengenalmu, menganggapmu lebih, mengagumimu sampai detil terkecil,  menggilaimu bahkan hingga detik ini. Aku telah menghabiskan ribuan hari dengan membisukan perasaan, namun dengan bodohnya berharap bahwa kau akan menyadarinya.
Sewindu, nadi asmaraku terhenti karenamu, mengabaikan setiap yang singgah, menjadikanmu satu-satunya keindahan.
Sekarang, aku tidak ingin lagi terbelenggu dalam pahitnya diam, sudah saatnya aku berhenti, aku perlu melanjutkan hidupku, menemukan cinta baru.

LCTA IAI Sumsel 2014

“Betapa bahagia itu bisa tercipta dari sisi manapun.”
- Windy, 19 tahun, lagi bahagia.

Hai, apa kabar? Minggu ini sebenarnya gue lagi sibuk UAS. Tapi karena hari ini nggak ada jadwal alias libur, dan kebetulan punya pengalaman yang pengeeenn banget gue bagi, siang ini gue memutuskan untuk menulis.
Kurang lebih satu bulan yang lalu, salah satu kakak tingkat gue ngajakin gue untuk gabung dalam kepanitiaan Lomba Cepat Tepat Akuntansi IAI Sumatera Selatan. Intinya, itu adalah lomba cepat tepat untuk mahasiswa akuntansi se-Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh IAI Sumsel. Kebetulan, tahun ini Unsri yang kebagian bekerja sama dengan IAI untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Karena itu adalah lomba akuntansi, otomatis kepanitiaan perwakilan dari Unsri adalah mahasiswa Akuntansi Unsri yang kebetulan tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Akuntansi (IMA) Unsri. Lomba diadakan dalam dua hari, yaitu tanggal 15 dan 22 November 2014.
Saat gue ditawari untuk ikut dalam kepanitiaan tersebut, gue ragu. Saat itu gue lagi kewalahan banget sama manajemen waktu gue yang berantakan. Gue takut nggak bisa nyisihin waktu gue untuk kesibukan di lomba ini. Tapi berat juga untuk menolaknya, karena gue paling suka sibuk-sibuk ngurus kegiatan semacam itu. Gue juga sadar kalau ini adalah kesempatan yang belum tentu semua orang bisa dapatkan. Setelah menimbang-timbang, akhirnya gue setuju untuk menjadi panitia seksi kesekretariatan.
Selama beberapa minggu selanjutnya, gue sama sekali nggak melakukan kontribusi apapun untuk lomba tersebut. Nggak pernah ikut rapat, nggak tau-menau soal proposal, dan nggak menyumbangkan tenaga apapun disana. Sampai-sampai gue sempet mikir, “Acaranya jadi nggak, sih?”.
Singkatnya gue akhirnya tahu kalau memang kakak-kakak itu sengaja nggak ngajak gue bersibuk-sibuk ria. Alasannya, biar nggak ribet dan bisa kerja cepat. Karena emang nggak memungkinkan bagi gue yang kuliahnya di Indralaya nun jauh disana bisa bolak-balik ke IAI yang berlokasi di Palembang. Alhasil, yang kerja itu cuma kakak-kakak tingkat gue (yang notabene udah jarang ke Indralaya karena jumlah sks-nya tinggal dikit) dan anak-anak dari kampus Palembang (yang notabene lokasi kampusnya dekat banget sama kantor IAI).
Nah, begitu hari Technical Meeting tiba, gue harus mengorbankan kuliah tambahan gue karena posisinya gue nggak mungkin nggak datang atau nggak ikut berpartisipasi lagi. Terlebih lagi, karena sampai dengan saat itu gue belum pernah datang ke IAI. Akhirnya gue pergi ke IAI dan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam disana. Setidaknya, dengan kedatangan gue itu gue jadi tahu gambaran suasana lombanya dan apa sebenarnya tugas gue disitu—karena sampai saat itu gue masih belum juga ‘kerja’.
Keesokan harinya, tibalah hari pertama LCTA IAI Sumsel yang diisi dengan acara seminar. Saat itu gue berbagi shift sama panitia seksi kesekretariatan lainnya dan mendapatkan jatah untuk datang pada siang hari. Sebenarnya gue (lagi-lagi) nggak ada tugas disana, karena tugas panitia kesekretariatan itu ketika registrasi pagi harinya. Akhirnya gue cuma duduk-duduk doang disana sampai seminar selesai.
Nah, yang paling keren itu adalah hari puncaknya, yaitu hari kedua kegiatan sekaligus lomba yang sebenarnya. Untuk hari kedua, acara diadakan di Hotel Sintesa Peninsula. Sebelumnya, gue nggak tahu dimana dan gimana hotel itu. Sampai akhirnya, pagi-pagi buta gue mengendarai motor sendirian menuju kesana.
Wuih, gue semangat banget pokoknya. Pertama, karena memang gue selalu antusias tiap ikut kegiatan-kegiatan semacam ini. Kedua, ada rasa harus datang pagi karena merasa harus membantu kakak-kakak panitia lainnya yang pasti sudah capek banget mengusahakan segala sesuatunya. Dan, tibalah gue di hotel tersebut. Untunglah, hotelnya sangat gampang untuk ditemui, meskipun jaraknya jauuuhhh banget dari rumah gue.
Hari itu, di hotel itu, bersama panitia-panitia lainnya, gue happy banget. Disana, gue mendapatkan pengalaman yang luar biasa berharga.
Secara material, gue terkesan banget sama kegiatan ini. Kalau sebelum-sebelumnya waktu gue jadi panitia, even gue ikut bayar kontribusi, seringnya itu gue malah nggak dapat jatah makan. Entah itu karena harus menekan biaya seminimal mungkin, kehabisan, atau nggak punya waktu untuk sekedar makan. Sementara di lomba ini, mulai dari sarapan, snack pagi, makan siang, sampai snack sore, semuanya kebagian! Bahkan, tanpa membayar kontribusi apapun! Ini adalah panitia terenak yang pernah gue rasain.
Secara emosional, gue merasa sangat bangga. Karena seperti yang gue bilang sebelumnya, nggak semua orang dapat kesempatan ini. Gue merasa terhormat banget mendapatkan kesempatan untuk bisa tergabung dalam kepanitiaan dan melihat secara langsung proses kepanitiaan di tingkat yang lebih besar itu seperti apa. Lalu, mungkin karena gue lagi suntuk-suntuknya sama kegiatan gue yang semakin membosankan—apalagi semakin mendekati UAS, gue merasa kegiatan ini justru menjadi ‘hiburan’ tersendiri buat gue. Gue ketemu dan mengenal orang-orang baru, juga mengobrol dengan mereka. Gue merasa sedikit lebih dekat dengan orang-orang yang sebenarnya merupakan keluarga gue juga. Kami terlahir dalam satu rahim yang sama, Akuntansi. (Sorry gue lebay :D)
Begitu acara selesai, gue tahu-tahu aja merasa malas pulang ke rumah. Hari sudah gelap, panitia-panitia lainpun sudah bergegas pulang. Selain gue, hanya tinggal panitia dari IAI dan kakak-kakak tingkat gue yang tersisa disana. Sebenarnya gue masih ingin ikut membantu membereskan semuanya hingga selesai. Apalagi, wajah lelah kakak-kakak itu semakin membuat gue sulit untuk meninggalkan hotel itu. Tapi kondisinya saat itu benar-benar tidak memungkinkan. Hari sudah malam dan hujan baru saja berhenti, sementara rumah gue jauuuhhh banget dari hotel itu. Gue takut nanti akan turun hujan lagi, sementara gue pulangnya sendirian. Akhirnya dengan berat hati, gue pamit sama ketua pelaksananya.
Gue pulang dengan perasaan teramat bahagia. Sama sekali nggak terasa pegal-pegal di tubuh (barulah pas bangun tidur terasa banget pegalnya). Di perjalanan, gue beberapa kali senyum-senyum sendiri. Benar-benar pengalaman yang nggak mungkin terulang lagi.
Foto sebelum acara dimulai

Selfie sama beberapa panitia

Foto setelah acara berakhir
Sepulangnya gue di rumah, melalui line, panitia-panitia mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan kerja keras yang telah sama-sama kami upayakan hari itu. Tapi, gue justru berbeda. Gue mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah mengajak gue dalam kegiatan yang luar biasa keren ini. Gue merasa sangat terhormat menjadi salah satu bagian dari mereka.
Harapan gue, nantinya gue masih dikasih kesempatan lagi untuk terbagung lagi dalam kepanitiaan semacam ini bersama mereka, atau dengan orang lain yang tak kalah hebatnya. Semoga juga, ini adalah batu loncatan bagi gue untuk bisa merasakan kebanggaan-kebanggaan lainnya di masa yang akan datang.

19


19.
I am 19 years old. Dulu sebelum Saya berulang tahun yang ke-19, teman-teman suka bikin candaan kalau nineteen means last teen. Saat itu last teen bagi mereka (atau kami) hanya sebatas lucu-lucuan karena di usia yang (saat itu) hampir 19, Saya lagi-lagi masih tanpa pasangan. Namun sepertinya candaan itu kini mempunyai definisi yang tidak sebatas lucu-lucuan semata.
Kini, Saya telah benar-benar berada di angka 19. Selama perjalanan Saya melewati hari-hari di usia yang ke-19, Saya merasa bahwa last teen tidak hanya guyonan belaka.
Sejak berada pada garis start usia 19, banyak hal yang tahu-tahu saja datang ke hidup Saya. Sempat marah untuk hal-hal yang tidak Saya inginkan, namun untunglah Saya cepat mengerti bahwa memang benar every bad and good things always happen for some reasons.
Di usia 19 ini, Saya merasakan sisi teen Saya sedikit demi sedikit terus berkurang dan digantikan oleh satu bentuk kedewasaan. Saya tidak bilang Saya sudah dewasa, Saya hanya sudah menggerakkan kaki menuju hal itu.
Saya masih tanpa pasangan bahkan saat teen Saya sudah akan habis masanya. Saya juga belum benar-benar mendapatkan apa yang sebenarnya Saya inginkan. Saya tetap tidak sehebat apa yang pernah Saya inginkan dari diri Saya dulu.
Namun lebih daripada itu, 19 mengajarkan Saya tentang kedewasaan. 19 mengiringi introspeksi diri Saya hingga akhirnya Saya memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri. Berhenti menyalahkan orang lain untuk sesuatu yang tidak mereka ketahui—meski mereka melakukannya. Berhenti meratapi diri sendiri. Berhenti bersikap tidak bersahabat dengan satu-satunya orang yang paling mengertimu—dirimu sendiri.
Sekitar setengah perjalanan lagi, Saya akan beranjak ke angka berikutnya—dimana tidak ada lagi teen di angka tersebut. Saya bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Ada banyak hal baru yang akan Saya temukan. And honestly, Saya tidak sabar untuk hal itu.
Dalam banyak hal, 19 membuat Saya merasa berbeda.