Timbangan Miring


Aku paling setia pada diriku sendiri. Seumur hidup ini hanya dia saja cintaku, yang paling mengerti aku dan tidak pernah meninggalkanku sendirian. Dia menjadi yang pertama tahu kesedihanku, mengulurkan tangan dan meminjamkan pundak untukku. Dia menjadi yang paling bahagia melihatku bahagia. Orang lain tidak tahu, banyak hal romantis telah kami lakukan bersama.


Makin banyak jejak yang kutapaki, makin aku bingung. Mengapa orang lain berdua? Mengapa mereka bersama orang lain? Aku juga punya cinta, tapi tidak ada yang lain di sampingku. Apa diri mereka tidak mencintai mereka? Apa aku terlalu setia pada diriku sendiri?



Kesetiaanku diuji. Karena penasaran, aku berniat berkhianat. Aku mendekati orang lain, mencoba memasuki kehidupannya dan berusaha keras berpaling dari diriku. Tidak pernah berhasil. Ada saja celanya. Makin banyak lagi pertanyaan di kepalaku. Kenapa mereka bisa dan aku tidak? Apa ada yang salah dari caraku? Aku mengkajinya hari demi hari, curi pandang dan dengar tentang pengalaman mereka, kubandingkan dengan punyaku.



Setelah berwaktu-waktu menganalisis, aku akhirnya mengerti. Tidak adil jika menuntut orang lain datang padahal hati masih sungkan. Kesetiaanku tidak salah. Mereka juga tidak. Aku ingin punya cinta orang lain juga, dan itu bukan khianat. Aku ingin punya cinta orang lain juga, tapi belum saatnya. Aku masih ingin bersenang-senang dengan diriku, sebelum nanti aku akan mengesampingkannya untuk orang lain. Diriku sangat spesial bagiku, dia terlalu baik. Dia tidak pernah mengecewakan, karena itulah aku bangga menjadi cintanya. Aku tak tega membagi cintaku cepat-cepat, menyakitinya seperti sedang dihukum saja.

Buat Apa Sekolah?


Saya, 24 tahun, seorang ibu bergelar magister.



"Lulusan S-2, kok, kerjaannya cuma urus anak."
"Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya masih di rumah juga."

Saya belajar dan sekolah tinggi-tinggi, mulanya untuk dirinya sendiri, berambisi untuk mencapai karir bagus di usia muda. Banyak mimpi yang dirangkainya tiap malam, tentang akan menjadi seperti apa Saya di masa depan. Satu tahun ke depan, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun... Sudah direncanakannya masak-masak. Melanjutkan studi S-2 juga demikian. Saat itu Saya berpikir, gelar itu akan melicinkan jalan mimpinya. Dia telah meraih itu dengan kerja keras, menapaki satu demi satu anak tangga tepat sasaran.

Kemudian jalan mimpi Saya sedikit bergeser saat jodohnya datang terlalu cepat dari perkiraannya. Tentang jodoh ini, sudah Saya selipkan juga pada salah satu rangkaian mimpinya. Karena itu bagian dari mimpinya, Saya meyakini bahwa mimpi yang datang lebih cepat merupakan pertanda yang baik. "Tidak masalah. Setelah ini, aku akan menyusun kembali jalur mimpiku dan mewujudkannya sesuai waktu yang sudah kurencanakan dulu."

Menariknya, pertanda baik itu datang dengan perspektif baru dan sedikit berbeda. Ambisi Saya luntur digantikan dengan keinginan mulia. Tentang keluarga kecilnya, tentang buah hatinya. Pada akhirnya, Saya memilih berkarir sebagai seorang ibu. Saya melepas segala mimpi dan ambisi yang dirajut bertahun-tahun dengan mengecewakan orang tua dan beberapa orang terdekatnya. Saya bahkan sudah menebalkan kuping agar tak makan hati mendengar nyinyiran orang-orang.

Apakah kamu tahu apa yang dipikirkan Saya ketika memutuskan untuk memilih menjadi ibu full time bagi anaknya dengan mengesampingkan gelar yang sudah diusahakannya bertahun-tahun? Percayalah... Saya telah melalui banyak dilema bermalam-malam. Saya mengambil keputusan setelah berulang kali menahan kepalanya agar tidak meledak. Saya bahkan hampir bosan mengonfirmasi Tuhan di tiap doa, apakah benar itu jawaban dari pertanyaannya.

Suatu hari, ada lagi yang mencibir Saya. Dengan tegas Saya menjawab, "Jangan hakimi aku karena menjadi ibu berilmu, lebih baik bercermin mengapa kamu tidak."


Copas dari Grup Sebelah


Well, sebenarnya saya kurang suka cerita yang "berat-berat" di sosmed saya. Bukan kapasitas saya rasanya. Tapi karena saya harus tetap menulis, maka inilah sedikit perspektif saya.


Saya mau sedikit cerita, tentang awal ketidaknyamanan saya terhadap akun-akun komedi di sosmed belakangan ini. Ada satu akun komedi, dengan jutaan pengikut dan bahkan punya kantor dan mengeluarkan produk sendiri, membagi banyak sekali konten-konten lucu dan seringkali viral, tapi pernah melukai beberapa pihak karena kontennya yang merendahkan suatu pihak tanpa mengetahui kebenarannya. Mau selucu apapun itu, kok tega sekali mengunggah konten yang mereka sendiri tidak tahu kebenarannya.

Admin akun semacam itu sebaiknya lebih bijak lagi dalam mengunggah konten. Jangan hanya karena itu lucu, lalu dianggap pantas dipublikasikan. Yang lucu belum tentu etis. Kalau yang lucu sudah pasti etis, lalu kenapa KPI berulang kali menegur acara komedi di tv? Apa karena di sosmed tidak ada KPI, lalu akun-akun sosmed itu merasa tidak ada salahnya mengunggah hal-hal semacam itu?

Kalau begitu, bagaimana kalau kita, netizen saja yang jadi KPI nya? Block dan report as spam saja akun-akun yang lucunya menjelek-jelekkan orang lain. Menghibur tidak masalah asal tidak akhirnya menghina suatu pihak. Untuk apa kita berhenti menonton tv, tapi tetap "menonton" hal-hal tidak mendidik di sosmed? Block dan report as spam saja akun-akun yang kurang ada manfaatnya dan terlalu banyak gambar yang tidak pantas dilihat remaja-remaja Indonesia yang katanya makin tidak bermoral. Coba pikir-pikir lagi, adakah campur tangan kita atas tidak bermoralnya mereka?

Saya paham tindakan tersebut tidak membawa dampak besar, tapi setidaknya saya telah menyelamatkan diri sendiri dengan menyaring informasi apa yang pantas masuk di sosmed saya. Kenapa tidak kasih saran saja? Hmm, boleh saja, tapi saya pribadi lebih memilih untuk mensterilkan sosmed saya dari akun-akun tersebut karena saran bisa jadi ditampung, tapi tidak menghindarkan kita dari konten-konten yang sudah ada. Saya juga mengerti bahwa masih banyak oknum yang tidak makan saran, mereka makan uang dan popularitas.

Berbeda Bersama



Kita pertama bertemu di depan sebuah ruko yang tertutup rapat. Hujan mempertemukan kita disana. Kamu menatapku berlarian ke arahmu, dengan seluruh yang kupakai lepek karena kuyup. Kamu mengulum senyum, menahan tawa. Aku memicing, sedikit tersinggung.


Aku berdiri canggung di sebelahmu, berulang kali menggosok lengan karena dingin dan sedikit salah tingkah.

"Mau pakai punyaku dulu?" Suaramu pertama kali memecah hening diantara kita, seraya menyodorkan jaket yang entah sejak kapan kamu lepas dari bahumu.


"Ah, nggak. Terima kasih."

"Hujannya masih lama, loh."
Aku mengernyit. Kamu, kan, bertanya, lalu kenapa jadi memaksa.
"Iya, nggak apa-apa."
"Astaga, nggak ada maksud apa-apa kok. Beneran, deh. Cuma mau kasih pinjam aja, sumpah."
Aku tertawa juga akhirnya: kamu merasa dicurigai, ya?
Karena tidak enak pada niat baikmu, aku mengambil jaket itu dari tanganmu lalu memakainya.



Kemudian, begitu saja obrolan mengalir di tengah bisingnya hujan. Hujan telah berganti pelangi, kita belum juga selesai pada kalimat terakhir. Aku dan kamu, sama-sama baru bagi satu sama lain. Masih banyak cerita yang belum dibagi. Aku maupun kamu, masih ingin berlama-lama. Jadilah, berujung seperti ini. "Besok-besok ngobrol-ngobrol lagi, yuk! Punya line? Nanti berkabar lagi. Jaketnya, pakai aja dulu."



Sore itu, hujan terindah yang pernah kudatangi. Aku tidak pernah berpikir semudah itu merasa nyaman, apalagi pada orang asing sepertimu.



Hari ini kita bertemu lagi di suatu coffee shop. Kamu masih semenyenangkan terakhir kita bertemu. Kita mengobrol lebih banyak, makin banyak. Sampai pada bahasan yang sangat pribadi, akhirnya aku tahu, ada yang berbeda diantara kita:



Aku masih sendiri, kamu telah berdua.



Aku tersenyum kecut. Seperti katamu di kala hujan sore itu, kamu tidak ada maksud apa-apa. Kamu memang jujur dan apa adanya, salahku karena nyaman pada kebersamaan kita yang berbeda. Salahku menjadi terlalu perasa di awal pertemuan.



Aku menghabiskan hari bersamamu dengan mencoba tenang dan sebiasa mungkin. Hingga hari hampir berganti, kita baru berhenti. Aku pamit, dan tak lupa mengembalikan jaketmu. Aku kembalikan harapan yang bukan punyaku.

Berani Bersuara Berani


Satu yang kusenangi dari menulis adalah tersampaikannya perasaan. Telah lama aku berteman kagum pada objek tanpa nama yang tak bosan hadir sebagai inspirasi menulisku, dan tulisan menjadi pengantar rasaku padanya.

---------

Dulu, di blog pribadiku, banyak sekali tulisan yang tertuju untuk satu orang. Objek tanpa nama, sering kusebut "My Favorite Boy". Kalau ada yang bertanya, "Adakah satu laki-laki yang kautemui selama hidupmu, yang memenuhi segala kriteriamu mengenai sosok pria idaman?", aku belum tentu menjawabnya. Tapi aku tahu benar siapa yang akan melintas di otakku--dia, si objek tanpa nama.

Aku belum memastikannya, tapi hampir sepenuhnya yakin bahwa ini bukan cinta. Hanya setumpuk kagum, mungkin. Yang aku tidak mengerti hingga kini adalah, dia membangun keberanian dari dalam diriku.


Suatu malam, dengan pikiran yang bercabang dan entah menuju ke arah bagian mana, aku mengiriminya sebuah pesan, melalui Facebook yang tak terurus. Aku menyampaikan kegilaanku padanya, bagaimana aku ingin sekali lagi memastikan perasaanku padanya, dan--aku tidak tahu ini benar atau tidak--memintanya untuk membalas tanpa perlu menjawab sesuatu yang tidak kutanyai. "Gila, gila, gila..." Aku menghardik dalam hati selama sepekan penuh, dan sampai kini masih sering melakukannya jika kembali teringat hal itu.


---------

Aku, bukan orang seperti itu. Aku, sangat pantang melakukan hal agresif semacam itu. Butuh hampir sewindu untuk aku melakukannya, dan masih tak percaya bagaimana bisa itu terjadi. Konyol, memalukan, dan tidak waras.


Tapi seperti kataku, dia mengajarkanku berani. Karenanya, aku berani bersuara meski hanya lewat kalimat panjang tak beraturan. Bahwa ada hal yang memang harus disampaikan, entah untuk memulai atau mengakhiri. Menghindari rasa sesal yang mungkin singgah seumur hidup.



Setelah malam itu, aku tahu dimana batas perasaanku. Kagumku berlebih padanya, bahkan hingga kini. Aku tidak tahu bagaimana hati ini besok, tapi jika boleh aku merasa-rasa, dia akan selalu dan tetap jadi keindahan bagiku. Paling tidak ada seinci ruang yang memang disediakan hanya untuknya, bagaimanapun nanti orang lain mengisi penuh sesak hatiku.

Arrgghh


Di kemarau terseok menyeret kaki
Kering ranting mencemooh sendiri
Umpatan kesalku termakan terik hari
Tidak ada yang berteman atasku
Kecuali tangis yang diam-diam terbit bersama peluh

Jauh sudah berjalan, melewati malam, kemudian hari demi hari
Tak lagi kutemui awalan jejak kemarin
Namun perjalanan ini tak kunjung pada ujung
Di tengah sesat mengasihani diri
Akankah ada akhir

Aku disini tak berarah, berusaha mencari cara
Harus kemana agar bertemu kehidupan
Tak adakah manusia dikirim tuk temani
Supaya aku tak menduga sendiri
Supaya jalanku tak dibebankan sepi

Pembatas Cerita


Halo, apa kabar? Wuah, hampir dua tahun saya nggak nulis di blog ini, boro-boro mau ngurusin. Kangen juga, ya, nulis-nulis di blog kayak gini. Well, sebenarnya udah lama banget saya kepikiran mau rajin ngeblog lagi. Tapi sekarang saya kesulitan cari materi cerita. Bisa dilihat, dulu isi blog ini begitu meledak-ledak emosinya, kebanyakan berisi curhatan pribadi. Sementara kalau sekarang kayaknya Saya agak susah kalau mau nulis begituan, jadi Saya lebih memilih sesekali menulis di Instagram. Setelah beberapa kali bercerita di Instagram, kayaknya Saya mulai tahu harus menulis apa di blog ini.


Setelah postingan ini, Saya akan menuliskan kembali beberapa tulisan (caption) Saya yang sempat Saya unggah di Instagram, juga membagi beberapa pengalaman Saya berlibur ke Bandung yang belum sempat Saya ceritakan sebelumnya, dan nggak menutup kemungkinan Saya akan membuat semacam cerita pendek atau cerita bersambung di blog ini. Mungkin kalian akan menemukan perbedaan gaya tulisan Saya yang dulu dengan yang sekarang, entah itu dari cara penyampaian per kata maupun dari segi emosinya. Apapun itu, semoga tetap bisa menarik untuk dibaca, ya! Untuk sementara, itu saja dulu yang terpikir di otak Saya dan mudah-mudahan Saya beneran bisa rutin menulis lagi disini. Hehehe.