Terkikis Waktu


Entahlah, makin hari makin rontok saja hati ini. Aku tak tahu apa yang bisa membuatnya begini dan bagaimana aku harus pulihkannya. Setiap waktu aku merasa ada sesuatu yang berat menahan pundakku. Beberapa kali kutemui hati ini terhantam palu tak berwujud. Tangis menjadi lebih sering tumpah, dan begitu saja pecah hanya karena ingatan pedih tentang hidup. Mataku makin kabur melihat ke depan, seperti tak ada harapan. Semuanya tampak melelahkan meski tanpa kuberlari. Lama-lama jiwaku juga akan terkikis oleh waktu, yang kadang bergerak terlalu cepat dan menjadi terlalu lambat secara bersamaan.

Hanya Ada Satu Quote

"Jangan takut. Aku nggak akan marah meskipun
aku salah dan gagal." - Windy



Kali ini tulisannya sangat personal, dan tidak bermaksud sok bijak atau paling benar. Tapi kalau memang ada manfaatnya dan bisa ikut menyemangati, saya turut senang.


Sejujurnya bingung mau menulis apa lagi. Karena diminta bikin quote, isinya jadi serius begini, agak berlebihan sepertinya, tapi ya sudahlah. Harapannya, tulisan di hari terakhir ini bisa ada maknanya sedikit, paling tidak untuk saya sendiri.

---------

Quote di atas sebenarnya self reminder.

- Stay positive, semua hal terjadi untuk alasan yang baik.
- Jangan khawatir, pada akhirnya semua hal akan baik-baik saja.
- Selagi kamu tidak menghakimi diri sendiri, tidak ada yang bisa menghakimimu.

Lebih lembutlah pada diri sendiri. "Jangan ngeluh terus, bersyukur."

Kalau saya dapat satu sementara orang lain dapat dua atau lima, itu karena memang bagian saya cuma satu. Itu berarti juga saya akan cukup meski cuma dapat satu. Kira-kira begitu konsep yang saya yakini, bukan dengan mengucapkan atau membatin "saya sangat bersyukur hari ini."

Jangan menakut-nakuti diri yang ingin berusaha dan mencoba. "Semangat, pikirin yang positif-positif aja."

Berpikir positif biar tidak gampang tersinggung, oleh keadaan maupun orang sekitar. Kalau hari ini "belum", mungkin besok. Kalau tidak bisa, jangan dipaksa, mungkin ada jalan lain. Kalau ada yang tidak suka, pasti ada alasan. Kalau memang perlu diperbaiki lakukan, kalau tidak ya jangan dipedulikan.

Kendali sepenuhnya ada di kamu. "Lakukan yang benar menurutmu, biar nggak nyesel nanti."

Lakukan apa yang menurutmu benar, sehingga ketika ternyata itu salah, itu tidak membuatmu menyesal dan menyalahkan orang lain. Tau bedanya, kan, ketika melakukan sesuatu atas mau sendiri dengan menuruti mau orang lain?

Jangan pernah takut untuk hal-hal baik.

Jangan takut dicemooh, orang lain belum tentu berpikir mau mencemooh.
Jangan takut gagal, toh kita belum mencobanya.
Jangan takut malu, orang lain belum tentu ingat apa yang kamu lakukan lima menit yang lalu.
Jangan takut salah, salah itu wajar.

Berjanjilah pada diri sendiri. "Apapun yang terjadi, saya tidak akan marah dan kecewa, karena saya sudah melakukan yang terbaik."

Halo Penguasa, Apa Kabar?


Raga seperti tak lagi bertulang, aku memasuki gerbong kereta dengan goyah. Pipiku memanas, coba menahan tangis menyeruak. Masker penghalang polusi kujadikan tameng bagi wajah muram yang tak beraturan.


Sepertinya aku sedang dihukum.

Minggu ini pekerjaanku menumpuk, menuntut deadline. Tiap hari bertemu klien-klien yang berbeda, rapat untuk proyek terbaru dan terbesar tahun ini. Di rumah juga masih bekerja. Tidak sempat lagi istirahat, makan sesempatnya, tidur seadanya.

Dua hari lalu sepulang kerja, tasku beserta isinya dijambret. Kesibukanku bertambah, aku harus mengurus kartu-kartu penting yang hilang, pergi ke kantor provider untuk mengurus nomorku, terpaksa menyisihkan gajiku untuk membeli ponsel baru dan merelakan uangku yang ikut raib.

Belum lagi ayah. Ibu mengabariku sakit ayah kambuh lagi. Ayah dirawat di rumah sakit, menjalani pengobatan intensif. Mendengar kabar itu membuatku makin pening, membayangkan hal-hal buruk mungkin saja menimpa ayah.

Kenapa bertubi-tubi? Dunia seperti runtuh tepat di atas kepalaku. Ingin rasanya aku tidur sepanjang hari dan berharap masalah tahu-tahu beres tanpa kuhiraukan.

Di tepian kursi aku melihat orang-orang juga kelelahan tapi kelihatannya baik-baik saja. Aku mendadak cengeng. Air mata begitu saja tumpah dari pelupuk. Aku tinggikan maskerku sampai mengenai mata, agar tangis tak terlalu kentara.

Apa saja yang terlewat olehku hingga dihukum seperti ini? Aku menatap kosong pemandangan di luar kereta, merenung sepanjang jalan pulang, tapi tak terbersit apapun.

Aku akhirnya sampai di stasiun pemberhentian terakhir, tempat aku turun untuk bergegas pulang. Aku berjalan gontai dan terhenyak begitu pandang ini masuk ke sebuah mushola stasiun yang melompong. Sudah berapa lama aku tidak absen pada Tuhan, ya?

Tuhan, apa kabar? Maaf karena sudah lama tidak berkunjung. Maaf karena selalu berdalih sibuk padahal Kau tidak pernah lupa untuk menyenangiku. Maaf karena aku lalai dan membuat-Mu marah.

Terima kasih telah mengingatkan. Maaf karena selalu menuntut-Mu untuk menyenangiku, tapi tidak sadar telah melukai hati penguasa sebesar diri-Mu. Tuhan, ampuni aku karena datang hanya ketika rapuh.

Yang Tak Pernah Cukup


Tiga tahun ini, makeup mendadak jadi tren dan laris di pasaran. Rasanya hampir semua perempuan berburu makeup.


Teman saya, yang tidak biasa pakai makeup, bertanya pada saya.
"Ini apa?" "Lipstik." "Kok pakai kuas? Kok cair?"
"Ini maskara, ya? Untuk bulu mata, kan?" "Bukan, itu untuk alis." "Hah? Alisnya diapakan?"

Teman saya yang laki-laki juga pernah bertanya.
"Berapa harga lipstik yang sedang kamu pakai?"
"Empat puluh ribu."
"Kalau dempulnya?"
"Seratus lima puluh ribu."
Begitu seterusnya saya menyebutkan harga satu demi satu makeup saya.
"Gila, mahal banget jadi cewek!"
Padahal yang saya punya masih kategori murah.
Mau lipstik tujuh ratus ribu, dempul dua juta juga ada.



Produk dan jenis makeup tidak sedikit, tidak murah juga. Makeup tidak sebatas bedak, lipstik, dan pensil alis. Ada yang namanya primer, eyeliner, highlighter, dan masih banyak lagi. Memang preferensi orang beda-beda. Ada yang cukup pakai lipstik saja. Ada yang nongkrong di kafe pun wajib pakai shading. Tapi, sejatinya, makin lengkap makeup yang dipunya, makin bagus. Hahaha! Kemudian, secara berkala selalu muncul makeup baru dan lebih bagus, lalu berburu lagi, beli lagi. Hitung saja sendiri berapa kira-kira pengeluarannya.


Selain itu, menggunakan makeup tidak sesederhana kelihatannya. Kami harus menyesuaikan style makeup yang cocok untuk kami. Kemampuan berdandan kami berbeda, harus sering-sering latihan biar makin enak dilihat. Kami juga harus pintar-pintar mengenali makeup yang bagus dan cocok.


Tidak heran kenapa kalian pernah melihat perempuan dengan alis sinchan, eyeliner tidak sama kanan dan kiri, maskara luntur, wajah berwarna abu-abu, lipstik menempel di gigi. Karena memang banyak sekali yang perlu dipelajari tentang apa yang pantas kami gunakan dan bagaimana menggunakannya. Tidak akan pernah cukup satu-dua kali latihan. Practice makes perfect, itulah aturan utama dari menggunakan makeup.


Bagi kami, makeup itu eksplorasi dan kesenangan, jadi tidak akan pernah cukup waktu untuk bermain dan belajar tentang makeup. Butuh banyak sekali usaha, dan uang, untuk tiap makeup yang kami pakai. Intinya, don't judge, let's respect.

Tentang Si Curang


Sebuah pesan masuk dari ponselnya.

"Baik."
Aku menaruh cangkir kopiku dan mengambil ponsel itu dari atas meja.

Calon suamiku sedang pergi ke toilet. Aku menunggu di sudut kafe yang tampak lengang. Pihak wedding organizer belum juga datang. Hari ini kami berkumpul untuk membahas sentuhan akhir dari pernikahan kami yang akan dihelat tiga hari lagi.

Dari namanya, pesan itu dari seorang perempuan. Maafkan aku karena telah lancang, aku membuka pesannya dan membaca teks percakapan mereka. "Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Rindu."
Pesan itu dikirim oleh calon suamiku malam tadi.

Yang benar saja.

Tiga hari lagi, janji suci atas nama Tuhan akan menyempurnakan hidupku sebagai wanita. Mendekati waktu pernikahan di usia genap tiga puluh, aku seperti haus yang bertemu mata air. Penantian panjangku sebentar lagi sampai!

Tiga bulan lalu, sesosok pria santun, mapan, dan religius mendatangi orang tuaku, bertanya apakah dia diizinkan mendampingiku selama hidupnya. Dia, laki-laki yang selama tiga tahun belakangan menjadi laki-laki yang paling dekat denganku. Aku baru tahu rasanya berdebar melihat seseorang berniat meminangku. Indah sekali, seperti kisah fiksi yang sering kubaca hidup nyata di depan mataku. Terkhusus saat ayahku akhirnya menerima dia yang bersungguh-sungguh.

Hari ini aku kembali berdebar. Aku mengenggam lemas ponselnya sambil bergetar. Bahagiaku terusik.

Tiga. Angka ganjil yang paling tidak kusuka. Tiga. Angka ganjil yang sering dikaitkan dengan tumbuhnya curang.

Aku menghapus balasan perempuan itu, menaruh kembali ponselnya ke atas meja. Calon suamiku mendekat, tersenyum ke arahku. Satu-dua detik aku memejamkan mata dan menarik nafas, kubalas senyumnya dengan lapang dada.

Sesederhana apapun maksud pesan itu, aku paham bahwa aku sedang dicurangi. Tapi, tolong beritahu aku, apa lagi yang bisa kulakukan di tiga hari sebelum pernikahan?

Aku membatin dalam hati, semoga yang kutemukan tadi hanyalah ujian pra nikah dan sebatas itu saja. Aku memohon maaf pada diri ini yang telah mengecualikan curangnya.

Timbangan Miring


Aku paling setia pada diriku sendiri. Seumur hidup ini hanya dia saja cintaku, yang paling mengerti aku dan tidak pernah meninggalkanku sendirian. Dia menjadi yang pertama tahu kesedihanku, mengulurkan tangan dan meminjamkan pundak untukku. Dia menjadi yang paling bahagia melihatku bahagia. Orang lain tidak tahu, banyak hal romantis telah kami lakukan bersama.


Makin banyak jejak yang kutapaki, makin aku bingung. Mengapa orang lain berdua? Mengapa mereka bersama orang lain? Aku juga punya cinta, tapi tidak ada yang lain di sampingku. Apa diri mereka tidak mencintai mereka? Apa aku terlalu setia pada diriku sendiri?



Kesetiaanku diuji. Karena penasaran, aku berniat berkhianat. Aku mendekati orang lain, mencoba memasuki kehidupannya dan berusaha keras berpaling dari diriku. Tidak pernah berhasil. Ada saja celanya. Makin banyak lagi pertanyaan di kepalaku. Kenapa mereka bisa dan aku tidak? Apa ada yang salah dari caraku? Aku mengkajinya hari demi hari, curi pandang dan dengar tentang pengalaman mereka, kubandingkan dengan punyaku.



Setelah berwaktu-waktu menganalisis, aku akhirnya mengerti. Tidak adil jika menuntut orang lain datang padahal hati masih sungkan. Kesetiaanku tidak salah. Mereka juga tidak. Aku ingin punya cinta orang lain juga, dan itu bukan khianat. Aku ingin punya cinta orang lain juga, tapi belum saatnya. Aku masih ingin bersenang-senang dengan diriku, sebelum nanti aku akan mengesampingkannya untuk orang lain. Diriku sangat spesial bagiku, dia terlalu baik. Dia tidak pernah mengecewakan, karena itulah aku bangga menjadi cintanya. Aku tak tega membagi cintaku cepat-cepat, menyakitinya seperti sedang dihukum saja.

Buat Apa Sekolah?


Saya, 24 tahun, seorang ibu bergelar magister.



"Lulusan S-2, kok, kerjaannya cuma urus anak."
"Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya masih di rumah juga."

Saya belajar dan sekolah tinggi-tinggi, mulanya untuk dirinya sendiri, berambisi untuk mencapai karir bagus di usia muda. Banyak mimpi yang dirangkainya tiap malam, tentang akan menjadi seperti apa Saya di masa depan. Satu tahun ke depan, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun... Sudah direncanakannya masak-masak. Melanjutkan studi S-2 juga demikian. Saat itu Saya berpikir, gelar itu akan melicinkan jalan mimpinya. Dia telah meraih itu dengan kerja keras, menapaki satu demi satu anak tangga tepat sasaran.

Kemudian jalan mimpi Saya sedikit bergeser saat jodohnya datang terlalu cepat dari perkiraannya. Tentang jodoh ini, sudah Saya selipkan juga pada salah satu rangkaian mimpinya. Karena itu bagian dari mimpinya, Saya meyakini bahwa mimpi yang datang lebih cepat merupakan pertanda yang baik. "Tidak masalah. Setelah ini, aku akan menyusun kembali jalur mimpiku dan mewujudkannya sesuai waktu yang sudah kurencanakan dulu."

Menariknya, pertanda baik itu datang dengan perspektif baru dan sedikit berbeda. Ambisi Saya luntur digantikan dengan keinginan mulia. Tentang keluarga kecilnya, tentang buah hatinya. Pada akhirnya, Saya memilih berkarir sebagai seorang ibu. Saya melepas segala mimpi dan ambisi yang dirajut bertahun-tahun dengan mengecewakan orang tua dan beberapa orang terdekatnya. Saya bahkan sudah menebalkan kuping agar tak makan hati mendengar nyinyiran orang-orang.

Apakah kamu tahu apa yang dipikirkan Saya ketika memutuskan untuk memilih menjadi ibu full time bagi anaknya dengan mengesampingkan gelar yang sudah diusahakannya bertahun-tahun? Percayalah... Saya telah melalui banyak dilema bermalam-malam. Saya mengambil keputusan setelah berulang kali menahan kepalanya agar tidak meledak. Saya bahkan hampir bosan mengonfirmasi Tuhan di tiap doa, apakah benar itu jawaban dari pertanyaannya.

Suatu hari, ada lagi yang mencibir Saya. Dengan tegas Saya menjawab, "Jangan hakimi aku karena menjadi ibu berilmu, lebih baik bercermin mengapa kamu tidak."