LCTA IAI Sumsel 2014

“Betapa bahagia itu bisa tercipta dari sisi manapun.”
- Windy, 19 tahun, lagi bahagia.

Hai, apa kabar? Minggu ini sebenarnya gue lagi sibuk UAS. Tapi karena hari ini nggak ada jadwal alias libur, dan kebetulan punya pengalaman yang pengeeenn banget gue bagi, siang ini gue memutuskan untuk menulis.
Kurang lebih satu bulan yang lalu, salah satu kakak tingkat gue ngajakin gue untuk gabung dalam kepanitiaan Lomba Cepat Tepat Akuntansi IAI Sumatera Selatan. Intinya, itu adalah lomba cepat tepat untuk mahasiswa akuntansi se-Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh IAI Sumsel. Kebetulan, tahun ini Unsri yang kebagian bekerja sama dengan IAI untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Karena itu adalah lomba akuntansi, otomatis kepanitiaan perwakilan dari Unsri adalah mahasiswa Akuntansi Unsri yang kebetulan tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Akuntansi (IMA) Unsri. Lomba diadakan dalam dua hari, yaitu tanggal 15 dan 22 November 2014.
Saat gue ditawari untuk ikut dalam kepanitiaan tersebut, gue ragu. Saat itu gue lagi kewalahan banget sama manajemen waktu gue yang berantakan. Gue takut nggak bisa nyisihin waktu gue untuk kesibukan di lomba ini. Tapi berat juga untuk menolaknya, karena gue paling suka sibuk-sibuk ngurus kegiatan semacam itu. Gue juga sadar kalau ini adalah kesempatan yang belum tentu semua orang bisa dapatkan. Setelah menimbang-timbang, akhirnya gue setuju untuk menjadi panitia seksi kesekretariatan.
Selama beberapa minggu selanjutnya, gue sama sekali nggak melakukan kontribusi apapun untuk lomba tersebut. Nggak pernah ikut rapat, nggak tau-menau soal proposal, dan nggak menyumbangkan tenaga apapun disana. Sampai-sampai gue sempet mikir, “Acaranya jadi nggak, sih?”.
Singkatnya gue akhirnya tahu kalau memang kakak-kakak itu sengaja nggak ngajak gue bersibuk-sibuk ria. Alasannya, biar nggak ribet dan bisa kerja cepat. Karena emang nggak memungkinkan bagi gue yang kuliahnya di Indralaya nun jauh disana bisa bolak-balik ke IAI yang berlokasi di Palembang. Alhasil, yang kerja itu cuma kakak-kakak tingkat gue (yang notabene udah jarang ke Indralaya karena jumlah sks-nya tinggal dikit) dan anak-anak dari kampus Palembang (yang notabene lokasi kampusnya dekat banget sama kantor IAI).
Nah, begitu hari Technical Meeting tiba, gue harus mengorbankan kuliah tambahan gue karena posisinya gue nggak mungkin nggak datang atau nggak ikut berpartisipasi lagi. Terlebih lagi, karena sampai dengan saat itu gue belum pernah datang ke IAI. Akhirnya gue pergi ke IAI dan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam disana. Setidaknya, dengan kedatangan gue itu gue jadi tahu gambaran suasana lombanya dan apa sebenarnya tugas gue disitu—karena sampai saat itu gue masih belum juga ‘kerja’.
Keesokan harinya, tibalah hari pertama LCTA IAI Sumsel yang diisi dengan acara seminar. Saat itu gue berbagi shift sama panitia seksi kesekretariatan lainnya dan mendapatkan jatah untuk datang pada siang hari. Sebenarnya gue (lagi-lagi) nggak ada tugas disana, karena tugas panitia kesekretariatan itu ketika registrasi pagi harinya. Akhirnya gue cuma duduk-duduk doang disana sampai seminar selesai.
Nah, yang paling keren itu adalah hari puncaknya, yaitu hari kedua kegiatan sekaligus lomba yang sebenarnya. Untuk hari kedua, acara diadakan di Hotel Sintesa Peninsula. Sebelumnya, gue nggak tahu dimana dan gimana hotel itu. Sampai akhirnya, pagi-pagi buta gue mengendarai motor sendirian menuju kesana.
Wuih, gue semangat banget pokoknya. Pertama, karena memang gue selalu antusias tiap ikut kegiatan-kegiatan semacam ini. Kedua, ada rasa harus datang pagi karena merasa harus membantu kakak-kakak panitia lainnya yang pasti sudah capek banget mengusahakan segala sesuatunya. Dan, tibalah gue di hotel tersebut. Untunglah, hotelnya sangat gampang untuk ditemui, meskipun jaraknya jauuuhhh banget dari rumah gue.
Hari itu, di hotel itu, bersama panitia-panitia lainnya, gue happy banget. Disana, gue mendapatkan pengalaman yang luar biasa berharga.
Secara material, gue terkesan banget sama kegiatan ini. Kalau sebelum-sebelumnya waktu gue jadi panitia, even gue ikut bayar kontribusi, seringnya itu gue malah nggak dapat jatah makan. Entah itu karena harus menekan biaya seminimal mungkin, kehabisan, atau nggak punya waktu untuk sekedar makan. Sementara di lomba ini, mulai dari sarapan, snack pagi, makan siang, sampai snack sore, semuanya kebagian! Bahkan, tanpa membayar kontribusi apapun! Ini adalah panitia terenak yang pernah gue rasain.
Secara emosional, gue merasa sangat bangga. Karena seperti yang gue bilang sebelumnya, nggak semua orang dapat kesempatan ini. Gue merasa terhormat banget mendapatkan kesempatan untuk bisa tergabung dalam kepanitiaan dan melihat secara langsung proses kepanitiaan di tingkat yang lebih besar itu seperti apa. Lalu, mungkin karena gue lagi suntuk-suntuknya sama kegiatan gue yang semakin membosankan—apalagi semakin mendekati UAS, gue merasa kegiatan ini justru menjadi ‘hiburan’ tersendiri buat gue. Gue ketemu dan mengenal orang-orang baru, juga mengobrol dengan mereka. Gue merasa sedikit lebih dekat dengan orang-orang yang sebenarnya merupakan keluarga gue juga. Kami terlahir dalam satu rahim yang sama, Akuntansi. (Sorry gue lebay :D)
Begitu acara selesai, gue tahu-tahu aja merasa malas pulang ke rumah. Hari sudah gelap, panitia-panitia lainpun sudah bergegas pulang. Selain gue, hanya tinggal panitia dari IAI dan kakak-kakak tingkat gue yang tersisa disana. Sebenarnya gue masih ingin ikut membantu membereskan semuanya hingga selesai. Apalagi, wajah lelah kakak-kakak itu semakin membuat gue sulit untuk meninggalkan hotel itu. Tapi kondisinya saat itu benar-benar tidak memungkinkan. Hari sudah malam dan hujan baru saja berhenti, sementara rumah gue jauuuhhh banget dari hotel itu. Gue takut nanti akan turun hujan lagi, sementara gue pulangnya sendirian. Akhirnya dengan berat hati, gue pamit sama ketua pelaksananya.
Gue pulang dengan perasaan teramat bahagia. Sama sekali nggak terasa pegal-pegal di tubuh (barulah pas bangun tidur terasa banget pegalnya). Di perjalanan, gue beberapa kali senyum-senyum sendiri. Benar-benar pengalaman yang nggak mungkin terulang lagi.
Foto sebelum acara dimulai

Selfie sama beberapa panitia

Foto setelah acara berakhir
Sepulangnya gue di rumah, melalui line, panitia-panitia mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan kerja keras yang telah sama-sama kami upayakan hari itu. Tapi, gue justru berbeda. Gue mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah mengajak gue dalam kegiatan yang luar biasa keren ini. Gue merasa sangat terhormat menjadi salah satu bagian dari mereka.
Harapan gue, nantinya gue masih dikasih kesempatan lagi untuk terbagung lagi dalam kepanitiaan semacam ini bersama mereka, atau dengan orang lain yang tak kalah hebatnya. Semoga juga, ini adalah batu loncatan bagi gue untuk bisa merasakan kebanggaan-kebanggaan lainnya di masa yang akan datang.

19


19.
I am 19 years old. Dulu sebelum Saya berulang tahun yang ke-19, teman-teman suka bikin candaan kalau nineteen means last teen. Saat itu last teen bagi mereka (atau kami) hanya sebatas lucu-lucuan karena di usia yang (saat itu) hampir 19, Saya lagi-lagi masih tanpa pasangan. Namun sepertinya candaan itu kini mempunyai definisi yang tidak sebatas lucu-lucuan semata.
Kini, Saya telah benar-benar berada di angka 19. Selama perjalanan Saya melewati hari-hari di usia yang ke-19, Saya merasa bahwa last teen tidak hanya guyonan belaka.
Sejak berada pada garis start usia 19, banyak hal yang tahu-tahu saja datang ke hidup Saya. Sempat marah untuk hal-hal yang tidak Saya inginkan, namun untunglah Saya cepat mengerti bahwa memang benar every bad and good things always happen for some reasons.
Di usia 19 ini, Saya merasakan sisi teen Saya sedikit demi sedikit terus berkurang dan digantikan oleh satu bentuk kedewasaan. Saya tidak bilang Saya sudah dewasa, Saya hanya sudah menggerakkan kaki menuju hal itu.
Saya masih tanpa pasangan bahkan saat teen Saya sudah akan habis masanya. Saya juga belum benar-benar mendapatkan apa yang sebenarnya Saya inginkan. Saya tetap tidak sehebat apa yang pernah Saya inginkan dari diri Saya dulu.
Namun lebih daripada itu, 19 mengajarkan Saya tentang kedewasaan. 19 mengiringi introspeksi diri Saya hingga akhirnya Saya memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri. Berhenti menyalahkan orang lain untuk sesuatu yang tidak mereka ketahui—meski mereka melakukannya. Berhenti meratapi diri sendiri. Berhenti bersikap tidak bersahabat dengan satu-satunya orang yang paling mengertimu—dirimu sendiri.
Sekitar setengah perjalanan lagi, Saya akan beranjak ke angka berikutnya—dimana tidak ada lagi teen di angka tersebut. Saya bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Ada banyak hal baru yang akan Saya temukan. And honestly, Saya tidak sabar untuk hal itu.
Dalam banyak hal, 19 membuat Saya merasa berbeda.

Belajar Mencintai dari Anak Kecil

Beberapa hari yang lalu, gue pengen banget nulis lagi di blog. Tapi sayangnya belum punya topik menarik untuk dibahas. Lalu hari ini, gue sepertinya punya sesuatu yang ingin dibagi ke kalian semua.
Sebelum ini, gue adalah salah satu orang yang nggak terlalu menyukai anak kecil. Dan karena suatu hal, akhir-akhir ini gue jadi sering ketemu anak kecil—atau paling nggak mereka yang lebih muda dari gue. Kesalnya, belakangan ini gue sering merasa tersentuh dengan ulah mereka. Khas anak kecil.

Tepat minggu lalu, gue ketemu sama anak cowok sekitar umur 12-13 tahun di satu tempat yang lagi gue datengin. Badannya kecil dengan gaya tengil. Pas di tempat itu, mungkin dia nggak ngeh sama gue, gue diam-diam merhatiin tingkahnya. Terus pas mau nyebrang jalan, gue ngobrol sama yang nyebrangin dia (ceritanya dia minta sebrangin gitu). Karena mungkin dikiranya “kok mereka saling kenal ya”, akhirnya dia ngajak gue kenalan gitu deh. Setelah itu dia cengengesan aja sampai akhirnya kami nyebrang jalan. Selanjutnya, kita berpisah. Dia naik angkot dan guepun meneruskan jalan untuk mendatangi jemputan. Yang bikin gue tersentuh adalah pas gue lagi jalan, dia nongoloin kepalanya dari angkot dan teriak “Kak, duluan ya” tetap sambil cengengesan dengan gaya tengilnya.
Apakah kalian bisa merasakan apa yang bikin gue tersentuh? Gue iri sama anak kecil. Mereka bisa senyum dan menyapa orang yang bahkan baru mereka kenal. Karena ketika kita udah dewasa, kita mulai membatasi kepada siapa kita harus ramah. Benar nggak? Kita yang udah lebih “waras” terkadang lebih banyak berpikir dalam menegur seseorang. Kita banyak mempertimbangkan hal-hal seperti “kenapa harus gue duluan yang nyapa, gue kan lebih tua dari dia”, “males ah gue nggak terlalu dekat juga”, “nggak enak, baru kenal, nanti dikira sksd”. Nggak kayak anak kecil yang selalu bersikap ramah dan menyenangkan pada siapa aja.
Lalu senin kemarin, gue melihat pemandangan indah waktu lagi jalan pulang kuliah. Apa? Jadi gini, kan tiap gue kuliah gue selalu nitip motor di rumah teman. Jadi gue harus masuk gang dulu untuk ngambil motornya. Pas gue lagi asyik (panas-panasan) jalan menuju rumah teman itu, gue melihat sepasang (kayaknya) kakak beradik jalan di depan gue. Fyi, si cewek berseragam SMP dan si cowok berseragam SD. Biasa aja, ya? The point is, mereka jalannya sambil pegangan tangan!
Mereka saling berdiam diri, tapi tangan mereka menyatu. Gue yang berada tepat di belakang mereka sedikit merasakan ‘setruman’. Saat itu, panasnya tengah hari bolong nggak berasa lagi. Melihat mereka berpegangan tangan udah cukup bikin gue adem. Dari penampilannya, mereka berasal dari golongan yang biasa-biasa aja, malah mungkin golongan nggak mampu. Gue merasa tersentuh.
Bukan dari golongan mana mereka berasal yang bikin gue tersentuh, tapi ada cinta yang tersirat dari yang saat itu mereka lakukan. Iyalah, bukannya pegangan tangan atau pelukan, ciuman, dan apapun itu emang selalu identik dengan cinta? Nah, karena hal itu mereka terlihat beda di mata gue.
Setau gue, banyak orang yang nggak ‘diajarkan’ cara menyayangi satu sama lain. Bahkan, terkadang orang tua atau orang yang lebih tua nggak tahu bahwa sebenarnya hal itu perlu diajarkan. Kita yang ngerasa udah dewasa juga terkadang masih nggak paham gimana caranya menyayangi seseorang. Tapi mereka bisa mempraktekkan itu dengan sangat baik.
Pegangan tangan, pelukan, ciuman biasa diartikan sebagai ekspresi cinta seseorang. Namun di jaman ini, hal itu semua biasanya diiringi dengan maksud jahat atau nafsu belaka. Namun mereka terlihat begitu tulus melakukannya. Bahkan mungkin mereka melakukannya tanpa mereka sendiri sadari. Gue tersentuh karena menurut gue, mereka bisa mengapresiasi makna cinta dan kasih sayang jauh lebih baik dari gue—atau mungkin kalian juga.
Karena dua pengalaman yang baru-baru ini gue alamin itu, gue sadar tentang suatu hal. Kita perlu banyak belajar dari anak kecil. Mereka belum mengerti banyak hal seperti orang dewasa. Mungkin orang dewasa seringkali merasa mereka begitu menyebalkan, bicara semaunya, dan hanya bisa merengek untuk meminta sesuatu.
Namun, karena mereka belum mengerti banyak hal pula, mereka lebih bisa menghargai sesuatu tanpa embel-embel. Mereka melakukan apapun yang membuat mereka bahagia, tidak peduli bahaya atau tidak. Mereka gampang antusias pada sesuatu, menganggap semua hal menakjubkan. Mereka tertawa lebih banyak dari orang dewasa. Dan yang paling penting, orang dewasa harus mengakui bahwa anak kecil lebih pandai mengartikan cinta yang sebenarnya daripada orang dewasa itu sendiri.

Kenapa Pilih Akuntansi?


Selamat tahun baru!!!! Nggak berasa kita udah sampe di tahun 2014. Udah banyak hal terlewati di tahun 2013, salah satunya tentang aktivitas baru gue sebagai mahasiswa.

Karena mungkin aja pengalaman gue kemarin berguna untuk adik-adik yang baru akan mulai pertarungan merebut bangku PTN, gue akan sedikit berbagi cerita.
Gue itu termasuk anak IPA yang terobsesi sama jenjang karir IPS. Dari jauh-jauh hari gue udah belajar pelajaran IPS. Tujuannya waktu itu, gue pengen banget masuk UI! Yap, Universitas Indonesia. Cukup nekat dengan kemampuan yang nggak begitu mumpuni. Apalagi saat itu gue pengennya ambil fakultas Psikologi yang notabene cukup favorit di UI.
Ketika SNMPTN, gue dengan yakin menaruh Psikologi UI di pilihan pertama dan Ilmu Administrasi Fiskal UI di pilihan kedua. Dari empat kesempatan yang diberikan, gue cuma memakai dua dengan alasan agar lebih meyakinkan.
Belum juga pengumuman SNMPTN, orang tua tiba-tiba nggak setuju sama keinginan gue untuk kejar ilmu di kota lain. Mereka pengen gue kuliah di Palembang aja.
Cukup berat untuk gue saat itu. Karena jujur aja gue belajar giat selama ini cuma untuk ngejar cita-cita gue kuliah di universitas negeri di jawa. Selama itu belajar gue terganggu dan mengalami penurunan. Dan bener aja, doa orang tua gue terkabul. Gue nggak lulus SNMPTN.
Gue cukup ngedown dengan kenyataan bahwa gue bahkan nggak bisa untuk sekedar nyoba apa yang jadi mimpi gue dari dulu. Kenapa? Karena gue takut restu orang tua yang nggak kunjung gue terima menggagalkan gue sekali lagi. Maka dari itu, di tes selanjutnya, yaitu SBMPTN, gue harus menekan segala ambisi gue dengan merendahkan hati untuk memilih UNSRI sebagai satu-satunya pilihan PTN yang bisa gue ambil. Selanjutnya, jurusan apa?
Well, selama proses gue mendalami IPS, gue sempet kepikiran untuk ambil Manajemen karena gue pernah ngimpi untuk jadi pengusaha atau semacamnya. Tapi entah kenapa, saat gue harus memilih, gue bahkan nggak memilih itu.
Ada rasa gengsi dalam diri gue yang bilang, "Masa lo kemarin udah ngimpi tinggi mau ke Psikologi UI, sekarang cuma mau ambil Manajemen?". Karena itu gue memutuskan untuk memilih jurusan terfavorit jurusan IPS yang ada di UNSRI. Yap, akuntansi.
Dengan penurunan kualitas belajar gue, gue bahkan masih harus songong dalam menentukan pilihan. Tapi, apa mungkin itu datangnya dari Tuhan, gue merasa harus milih Akuntansi. Akhirnya, gue buat Akuntansi, Ekonomi Pembangunan, dan Pend. PKn sebagai pilihan SBMPTN gue.
Ketika gue udah bener-bener dihadapin sama ujian sesungguhnya, gue mendadak ragu. Apa gue bisa? Apalagi, setelah gue ulas jawaban gue, kemungkinan untuk lulus kayaknya tipis banget.
Namun semuanya berbuah manis, ketika gue mendapati nama gue terdaftar sebagai salah satu yang lulus dalam SBMPTN pada pilihan pertama, Akuntansi UNSRI.
Sempet mikir juga, kok kemarin gue milih Akuntansi, ya? Kayaknya nggak cocok deh sama gue. Tapi sekarang gue paham, kalau setiap pilihan yang kita ambil pasti ada maksud di dalamnya.
Karena gerakan dari sesuatu yang nggak gue mengerti, gue akhirnya milih Akuntansi UNSRI dan lulus disana. Lalu, mengingat kemampuan gue yang lebih suka berhitung, tapi nggak mau terlibat dalam jurusan IPA, Akuntansi mungkin pilihan yang tepat. Lalu prospek kerja Akuntansi yang cenderung sesuai sama kepribadian gue, kayaknya gue harus bersyukur telah terjerumus dalam jurusan ini. Meskipun sempat merutuki keadaan yang bikin gue nggak bisa terbang terlampau tinggi, setidaknya gue masih bisa terbang dengan pemandangan yang nggak kalah indah.
Kadang, kita bahkan nggak milih apa yang kita pengen demi memperjuangkan apa yang setidaknya pantas untuk kita dapetin. Smart nggak melulu soal seberapa banyak ilmu yang lo ketahui, dalam beberapa hal smart berarti menentukan pilihan dengan benar.

Dia yang Tak Termiliki


Aku tidak tahu apa namanya, yang aku tahu aku selalu tertarik untuk memperhatikan setiap tingkahnya. Di kelas—juga di sekolah, dia adalah idola. Beberapa kali secara tidak sengaja aku mendengar teman-temanku membicarakannya. Oh, ternyata bukan hanya aku yang diam-diam mengaguminya.
Dia adalah bintang kelas berparas tampan. Prestasinya di sekolah membuatku berdecak kagum padanya. Tak sedikit gadis yang secara terang-terangan menyatakan cinta padanya. Sikapnya berwibawa namun tetap supel dan ramah pada teman-temannya. Gaya jalannya begitu khas.
Dia adalah teman sekelasku, satu-satunya laki-laki yang tatapannya paling kuhindari. Aku takut tatapannya akan semakin merunyamkan hatiku. Aku takut dia semakin membuatku gila. Aku takut terluka karena dia berada terlalu “jauh” dariku. Aku takut cintaku tak mendapat sambutan darinya. Aku takut…
Dia adalah lelaki yang belakangan ini mengacaukan tidurku. Tiba-tiba dia hadir dalam setiap khayalku. Sifat rendah diri di dalam diriku telah mengurungkan segala niatku untuk mendekatinya. Bahkan untuk sekedar menyapa saja aku tak berani.
Inilah pertama kalinya aku malu mengakui perasaanku sendiri. Aku malu untuk menyebut ini cinta. Ya, kupikir semua yang kurasakan ini hanya cinta monyet biasa. Cinta main-main. Maka dari itu, aku tidak menghiraukannya, meski tetap saja dia telah mengacak-acak perasaanku.
Setiap hari aku bertemu dengannya di sekolah. Dia duduk di pojok kelas bersama tiga orang sahabatnya. Sedangkan aku, duduk di meja paling depan—tepat di sebelah dinding. Diam-diam, aku menjadi suka menoleh ke belakang, hanya untuk bisa menangkap wajahnya dari ekor mataku—sedang apa dia. Diam-diam, aku memperhatikan setiap gerak tangannya yang mengukir kapur di papan tulis saat menjawab soal. Diam-diam, aku suka ketika dia sedang berceloteh bersama sahabat-sahabatnya.
Hampir satu tahun berlalu. Beberapa bulan lagi, kami akan segera naik kelas. Aku sendiri tak tahu apa aku masih bisa sekelas dengannya. Satu kenyataan yang sama sekali belum siap untuk kudengar, yaitu aku tidak satu kelas lagi dengannya. Aku masih ingin diam-diam menoleh ke arah tempat duduknya. Aku masih ingin merasakan ada dia bersamaku setiap hari—di kelas, meski tanpa bertegur sapa. Bahkan aku siap jika harus dipergoki temanku ketika sedang curi-curi pandang kepadanya. Tak apa bagiku jika mata aku dan dia bertaut. Tak apa jika lama-lama tatapannya bisa menghancurkan perasaanku sendiri. Sungguh, tak apa…
Ouch! Aku melupakan satu kenyataan yang lebih pahit dan lebih melukai. Ternyata dia mencintai orang lain. Dia mencintai seorang perempuan yang bukan aku. Dia mencintai temanku sendiri. Aku sering merutuki kisah cintaku yang payah ini. Aku tahu, aku sama sekali tak berhak untuk melarangmu mencintai siapapun. Tapi aku tidak pernah tahu, rasa patah hati akan sesakit ini.
Tiga tahun berlalu. Kini aku sadar, aku merindukannya.


Jadi Mahasiswa Nih!



Udah akhir tahun dan blog ini baru terjamah lagi setelah sekian lama. Well, gue ngerasa sedih banget karena beberapa bulan ini nggak bisa aktif di blog karena ada something wrong sama blognya. Karena sekarang blog gue udah bisa sign in, gue akan melampiaskan semua kerinduan gue pada dunia tulis-menulis ini.
Karena waktu terakhir gue ngeblog adalah waktu dimana gue lagi sibuk-sibuknya mau masuk kuliah, jadi mungkin ada baiknya sekarang gue menceritakan gimana kesibukan gue di kampus beberapa bulan ini. Ciye, udah jadi mahasiswa nih…
Gue mulai ceritanya dari ospek aja ya. Waktu itu, gue galau banget. Satu sisi, gue punya kepentingan lain yang bikin gue nggak bisa ikut ospek hari pertama. Sementara, gue nggak tau harus minta izin ke siapa. Fyi aja, sebenernya gue harus bolos ospek itu karena gue harus ikut tes kesehatan dan wawancara USM STAN (dan gue nggak punya hoki untuk lulus kesana). Akhirnya, setelah menemukan solusinya, gue bisa ikut tes dengan tenang. Sementara temen-temen lagi ngeluh karena ospeknya ngebosenin, gue justru asyik ngecengin cowok-cowok yang juga ikutan tes yang jadwalnya samaan sama gue. Ya, jangan anggap gue kegenitan apa gimana ya. Ini bener-bener cuma lucu-lucuan.
Di hari kedua ospek, gue sangat antusias. Karena itu adalah yang pertama bagi gue. Dan bener aja, ngebosenin! Tapi nggak ngebosenin ketika gue ketemu sama kakak tingkat berambut gondrong (rambutnya yang bikin gue meleleh, dan karena rambutnya juga sekarang gue jadi suka sama cowok gondrong-_-) yang tiba-tiba aja mengalihkan perhatian gue. Asal tau aja, si kakak adalah kakak tingkat gue yang ada di kampus Palembang. Awalnya gue seneng karena saat itu gue juga termasuk mahasiswa kampus Palembang. Gue ngerasa bakal punya banyak kesempatan untuk ngecengin kakak itu.
Tapi gue harus kecewa karena ternyata permohonan pindah kampus gue disetujui dan akhirnya gue harus pindah ke kampus Indralaya. Ah! Udah kampusnya jauh, nggak bisa ketemu si kakak lagi! Ngebetein!
Gue udah bolos satu minggu dari perkuliahan di Indralaya dan gue sangat nggak nyaman dan suasananya. Ketika masuk hari pertama kuliah di Indralaya, gue ngeliat temen-temen yang lain udah akrab sama temen-temen yang lain. Sementara gue? Sekitar satu bulan lebih gue menjalani perkuliahan disana tanpa temen yang bisa gue anggap temen. Bukan apa-apa, gue belum bisa bersosialisasi dengan baik.
Untuk mengatasi salah tingkahnya gue di kelas, gue cuma harus fokus sama materi yang dikasih dosen. Selesai kuliah, gue buru-buru ketemu Winda dan melakukan semuanya berdua. Gue seolah nggak punya waktu untuk sekedar haha-hihi sama temen-temen di kelas. Tapi karena hal itu, gue jadi rajin ngerjain tugas. Secara nggak sadar, gue menyibukkan diri dengan menikmati dunia baru gue sebagai anak kuliahan dengan ngerjain tugas tepat waktu. Siang di kasih tugas, malemnya gue udah ngerjain dan selesai. Mantep kan?!
Tapi, setelah UTS gue mulai mencoba memilih temen yang tepat. Serem ya, kesannya gue pilih-pilih temen. Well, gue nggak perlu ngejelasin kenapa, tapi intinya gue emang mau pilih-pilih temen, tentu aja dalam arti yang positif.
Mungkin karena waktu itu juga lagi sibuk-sibuknya mau inagurasi, jadi mulai cari temen ngobrol yang pas buat sharing tentang inagurasi. Dari situ, gue bisa nemuin satu-dua orang yang mungkin bisa gue jadiin temen. Karena beberapa temen gue juga sempet nginep di rumah, jadi kita bisa sedikit mengenal satu sama lain. Dan akhirnya, gue mulai bisa keluar dari kesulitan gue bersosialisasi.
Semakin kesini, gue udah bisa nyaman sama temen-temen di kelas gue. Meskipun sosialisasi gue sama temen-temen yang beda kelas nggak begitu baik, ya paling nggak di kelas udah ada perkembangan.
Sementara dalam hal belajar, gue ngerasa mengalami penurunan. Entah ini faktor udah punya temen apa karena pergantian dosen, gue mendadak males belajar. Dosen di kloter kedua ini rada males ngasih tugas soalnya, jarang masuk kelas pula. Jadi, nggak ada harapan sama sekali buat gue yang kalo belajar harus dipaksa ini.
Dan sampe sekarang, gue belum nemuin satu cowok yang bisa dijadiin kecengan. Belum ada yang mengalihkan perhatian gue lagi setelah kakak tingkat berambut gondrong yang ada di kampus Palembang itu. Huft.
Mungkin itu dulu yang bisa gue bagi sama kalian. Entah ada ngaruhnya apa nggak sama hidup kalian, tapi terima kasih karena udah mau nyisihin waktunya untuk baca postingan gue kali ini. Besok-besok mungkin gue akan bercerita lebih detail dan lebih seru tentang kehidupan gue sebagai mahasiswa. Bye!

Bulan Penuh Berkah Penuh Kenangan


Hai! Nggak berasa, kita udah memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan. Sebelumnya, gue mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa dan mohon maaf lahir batin. Semoga amal ibadah kita di Ramadhan kali ini diterima oleh Allah SWT ya.
Seperti umat muslim lainnya, guepun merasa antusias menyambut Ramadhan. Belum Ramadhan aja, suasana puasanya udah berasa banget. Iklan makanan dan minuman, berbagai program tv berbau Ramadhan dan keislaman, ramenya diskon baju lebaran dan pernak-perniknya, serta menjamurnya penjual kue lebaran. Biasanya juga, di bulan puasa, pasar mendadak rame pas sore hari. Orang-orang berbondong-bondong untuk berjualan menu berbuka puasa yang macem-macem. Ya, pokoknya seru deh. Suasana yang cuma bisa kita temuin di bulan puasa doang.
Dan nggak lupa juga, momen wajib yang pasti ada di kala Ramadhan adalah buka bersama. Iya, buka puasanya rame-rame. Biasanya, buka bersama dijadikan momen untuk bisa reunian sama teman-teman lama. Di bulan puasa, paling nggak kita harus nyisihin waktu dan uang untuk berbagai ajakan dan undangan buka bersama. Mulai dari teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, sampe ke temen kita di berbagai organisasi atau komunitas yang kita ikuti, semuanya ngajakin buka bersama.
Kali ini gue ingin berbagi cerita tentang bagaimana berkesannya beberapa buka bersama yang gue ikuti di tahun ini, padahal dengan orang-orang yang sama, orang yang itu-itu aja.
Buka puasa bersama pertama gue adalah tanggal 15 Juli kemarin, bersama geng gue yang antara lain, Redho, Novie, Ejak Saputra, Ejak Humaidi, Dina, Andre, Winda, dan gue sendiri. Paginya, kami udah janjian untuk datang ke sekolah. Kami mengunjungi sekolah kami yang kebetulan lagi disibukkan dengan kegiatan MOS. Kami sempat bertemu dengan beberapa guru dan mulai ngebayangin betapa kangennya belajar di sekolah. Selain itu, kami yang kebetulan semuanya—kecuali Winda—adalah alumni KIR ingin mengunjungi adik-adik kami yang sengaja kumpul pada hari itu. Lucu sih, kami disana (anggap aja) marah-marah loh. Hehehe.
Sorenya, sekitar jam empat kami membentuk formasi di jalan. Kami pergi menuju GOR (sebenarnya bukan di GOR beneran, tapi udah biasa disebut gitu, semacam warung seafood dengan konsep lesehan gitu) bersama-sama. Kami hanya bertujuh dan mulai memilih tempat. Waktu itu, Novie menyusul karena masih ada yang harus dikerjain. Entah karena apa, kami seolah membentuk empat pasangan kencan. Empat cowok berhadapan dengan empat cewek. Andre-Winda, Ejak Humaidi-Dina, Ejak saputra-Windy, dan Redho-Novie. Oh my God‼
Disana, kami seenaknya ketawa ngakak di depan puluhan pengunjung yang juga ingin berbuka di tempat itu. Kami udah nggak peduliin malu lagi. Bodo amat! Lelucon yang bikin sakit perut semakin bikin kita semua kelaperan. Sampe-sampe mas di sebelah meja kami ngeliatin kami terus dengan wajah yang senyum-senyum kagum (Semoga beneran kagum ya), entah karena apa. Waktu terasa lama ketika makanan udah dateng, sementara bedug magrib masih berpuluh-puluh menit lagi. Makanan yang tadinya masih panas berubah dingin ketika adzan magrib berkumandang.
Sebelum jam tujuh, pengunjung mulai sepi dan memilih pulang. Sementara kami masih sibuk ngakak-ngakak dan belum mau menyudahi kebersamaan malam itu. Setelah foto-foto, kami masih kegatelan pengen ‘bareng’. Masih belum puas, kamipun memilih untuk makan es krim di KFC. Iya, kami pergi ke KFC cuma untuk beli es krim! Dan sekitar setengah delapan, kami berkonvoi pulang dengan tujuh motor. Asli. Sumpah. Keren. Berasa geng motor gitu! Hahaha. Jarang-jarang loh kami bisa berkumpul berdelapan kayak gini, malem-malem pula, konvoi pula. Ah, pokoknya gila!
Oh iya, sebenernya gue juga sempet buka bareng Andre pada tanggal 13 Juli di PS. Nggak sengaja gitu. Karena kebetulan kita lagi jalan berdua dan keburu magrib, akhirnya kami memutuskan untuk buka puasa bareng. Ngeselinnya, kami nggak sempet dapet tempat pas buka. Jadi nunggu tempatnya sepi, baru bisa duduk. Dan ngeselinnya lagi, kami harus nunggu sekitar hampir satu jam karena keteledoran pelayannya. Ngeselin juga, karena Andre nggak mau nanyain soal pesanannya ke mas-mas itu. Huft!
Selanjutnya, tanggal 21 Juli gue ikut buka bersama anak-anak kelas 12 ipa 1. Seperti biasa, kami menjadikan rumah Ayah (Panji Nugroho) sebagai tempat berbuka. Eh, sebenernya sih, dia sendiri yang bersedia menyediakan tempat dan makanannya alias gratis! Setelah sekian lama, akhirnya gue bertemu temen-temen sekelas gue yang—officially—udah berbulan-bulan nggak ketemu. Dan bisa ditebak, pembicaraan yang paling nge-hits: “Lulus dimana?”
Selang beberapa hari, tepatnya tanggal 24 Juli kemarin, gue dan secr3t ceritanya mau busaber-buka sahur bersama. Pengennya sih bisa rame kayak waktu bukber di GOR, tapi ternyata kita nggak boleh mengharapkan duplikasi yang sama pada keadaan dan waktu yang berbeda. Karena beberapa alasan, akhirnya yang menyanggupi untuk ikut busaber waktu itu cuma gue, Andre, Ejak saputra, Ejak Humaidi, dan Novie sebagai tuan rumah. Sejak jam tigaan, gue udah berada di rumah Novie dengan membawa pempek dan sirup Marjan (mesti disebut merknya) dan nata de coco. Teman-teman yang lain belum juga datang. Alasannya sih ujan. Sampe sekitar jam lima, formasi baru lengkap. Novie pun mengajak kami untuk membeli menu berbuka lainnya dengan menggunakan mobil. Sekalian ngabuburit mungkin ya.
Yang lucu adalah ternyata Andre (anggap aja) mabok! Hahaha. Di dalam mobil jadi rame karena ngeledekin Andre. Tempat pertama yang singgahi adalah warung pecel lele, lalu ke Bakso Sikam, dan muter lagi untuk beli Batagor. Singkat cerita, kami sampe di rumah ketika adzan sudah berkumandang.
Kami kewalahan karena kami belum nyiapin apa-apa. Setelah heboh-heboh sebentar nyiapin makanannya, kami akhirnya menyantap makanan yang telah kami pilih. Gue dan Ejak Saputra dengan batagor, Ejak Humaidi dan Andre dengan pecel lelenya, dan Novie dengan baksonyo. Sayangnya, ternyata menunya nggak sesuai dengan harapan. Rasa daun jeruk di batagornya terlalu menusuk (jadi berasa makan maicih), baksonya salah beli (maunya super, eh beli yang biasa), dan lelenya juga salah (pesennya bakar, dapetnya goreng).
Niatnya, setelah berbuka kami ingin menonton dvd film 5 cm. Tapi karena suatu hal, kami baru bisa nonton dvd jam sepuluhan. Jadi, agak gambling. Antara mau fokus nonton, ribet milih tempat yang nyaman (soalnya yang cowok agak semena-mena tidurnya), heboh makan pempek, dan setengah mati nahan kantuk. Selesai nonton, kami bergegas tidur dan kemudian sahur bareng. Terus tidur lagi, dan bangun lalu mengobrol sekitar beberapa jam sampe akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.
Seperti biasa, semua hal yang kami lakukan bersama pasti diselingi dengan gelak tawa. Personally, yang gue suka ketika kami lagi ngumpul adalah kami nggak perlu bilang “gue mau cerita nih” atau “curhat dong”. Semua cerita mengalir gitu aja di sela-sela tawa dan lelucon. Jadi, poinnya cuma lo harus sering-sering ngumpul. Dan selalu ada cerita baru selepas kami kumpul. Selalu ada lelucon baru. Selalu ada…
Ini yang paling fresh. Buka bersama yang baru aja dilakuin kemarin, tanggal 26 Juli. Buka bersama calon anggota dan anggota, serta alumni KIR. Meskipun gue nggak tau kenapa, sebenarnya kegiatan tahunan ini udah gue tunggu sejak lama. Sampe akhirnya, buka bersama lebih terkesan bermakna ketika mengetahui bahwa Yaser datang. Sebelumnya, Yaser agak susah ditemuin dan dihubungin. Jadi, begitu dia menyisihkan waktunya untuk datang, gue senang banget. Dari sepuluh, sembilannya bisa datang. Setelah sekian lama, kami akhirnya berkumpul kembali. Yaser, Redho (meskipun telat datang), Dina, Gue, Ejak Saputra, Ejak Humaidi, Novie, Edo, dan Andre. Rasanya bener-bener kangen kumpul bareng, dan seneng banget bisa rame kayak gitu. Bersama adik-adik dan kakak-kakak yang lain, kami menikmati buka puasa dengan rasa kekeluargaan. Meskipun sempat diiringi hujan, tapi nggak mengurangi rasa kebersamaan di antara kami.
Gue akhirnya bisa mengobrol banyak dengan Yaser. Gue juga bisa melihat keakraban adik-adik KIR yang sibuk banget bikin acaranya sukses. Gue juga bisa menikmati keindahan persahabatan kami yang entah kenapa menjadi sesuatu yang berbeda malam itu. Kami juga nggak sengaja bikin yel-yel kejombloan kami. Iya, baru sadar ternyata semuanya lagi pada jomblo. Hehehe. Lucu aja sih, gimana kami bersembilan (kayaknya) terlihat lebih konyol daripada adik-adik kami. Inilah kami, dengan segala kekonyolan yang ada, juga dengan ikatan tali persahabatan yang semakin kuat.