Bukan Mak Comblang


Gue kesal. Lagi-lagi gue harus merasakan kebosanan yang sama tiap harinya. Nggak ada yang berubah dari rutinitas gue. Aktivitas standar yang biasa dilakukan anak sekolahan lainnya. Namun, sebenarnya satu hal yang paling bikin gue kesal adalah kenyataan bahwa status kejombloan gue tetap dalam level yang sama. Sampai saat ini, belum ada juga cowok yang mau mendekati gue. Level gue belum naik tingkat—sebagai PDKT-ers—sedikitpun.
“Win, akhirnya gue jadian sama dia. Uh, akhirnya…”
“Eh, tadi gue lihat di twitter-nya dia, dia udah jadian loh sama adik kelas yang juara umum itu.”
Perlahan, semakin banyak orang jadian di muka bumi ini. Teman-teman gue mulai mengakhiri masa kejombloannya, tetapi gue tetap nggak berkutik. Gebetan aja nggak punya, apa lagi mau jadian kayak gitu. Mahkota jomblo kayaknya masih betah nangkring di kepala gue. Gue nggak mengerti apa yang salah dari sikap gue ke cowok-cowok selama ini.
Gue masih mencari-cari alasan—yang mungkin bisa gue terima—di balik kejombloan gue yang nggak pernah berakhir ini ketika hp gue berbunyi. Iya, akhirnya hp gue berbunyi. Semoga aja bukan provider yang entah kenapa rajin banget mengingatkan gue untuk mengisi pulsa, bukan juga orang nyasar yang minta transfer uang ke rekening.
Doa gue terkabul. Emang bukan provider atau orang nyasar minta kirimin uang, melainkan teman gue di kelas sebelah yang entah kenapa sering banget sms gue belakangan ini. Namanya Agung. Iya sih, gue bisa sedikit kegirangan karena paling nggak yang sms gue itu cowok. Tapi…
Gue td liat Sinta pulang sklh. Tp kok ga bareng sm lo, ya? Ya biasanya kan lo bareng dia mulu. Hehehe.
Tapi bete juga kan kalo ternyata dia itu bukan perlu sama lo-nya. Dia cuma mau nanyain kabar Sinta lewat gue. Nggak jadi deh gue girangnya.
Oh, itu tadi dia ada les gitu. Ada apa?
Gue ogah-ogahan membalas sms Agung.
Lo ga les jg? Ga kenapa2 kok, mau tanya2 doang. Hehehe, ga boleh ya?
Sejujurnya sih nggak boleh banget. Kenapa nggak tanya orangnya langsung aja? Bikin mood gue ancur aja sih. Tapi mau gimana lagi, reputasi gue sedang dipertaruhkan disini. Kalau gue putus sms-nya, nanti gue disangka sombong, deh. Udah jomblo, dicap sombong pula. Hiiii
Gue les di bimbel lain, Gung. Iya, gpp sih.
Akhirnya gue dan Agung sms-an sampai larut malam. Dengan agak terpaksa gue meladeni sms dia demi reputasi yang sedang gue perjuangkan. Jujur aja, gue paling nggak bisa tidur larut, tapi malam ini adalah pengecualian. Gue heran, ya, sama cowok-cowok, kalau lagi suka sama cewek, kenapa sih lebih suka nanya-nanya ke temannya daripada nanya langsung? Cemen banget!
Besoknya, di sekolah. Nggak ngerti kebetulan macam apa ini, tiba-tiba aja gue yang lagi jalan menuju gedung sekolah menemukan Agung yang sedang memarkir motor di parkiran. Emang harus gitu kali, ya, kalo kemarinnya ada ngobrol bareng atau sms-an atau apa, pasti besoknya ada aja momen ketemuan yang bikin canggung. Gue suka grogi nih kalau terkepung situasi kayak gini. Gue cuma berdoa supaya dia nggak melihat gue.
“Hei, Win! Baru dateng juga?”
Mati gue! Kenapa harus nyapa gue, sih? Gue merasa kakinya menyamakan langkah gue. Mencoba biasa aja, gue menolah ke arah Agung dengan melempar senyum semanis mungkin. Wajahnya yang ramah langsung nodong gue secara nggak manusiawi. Muka lo nggak usah sok manis gitu bisa kali! “Hah? Oh, iya nih,” jawab gue gelagapan.
“Tumben. Gara-gara gue sms semalem, ya?”
Tumben? Sok tau banget sih nih cowok. “Nggaklah, ge-er deh.”
“Emangnya gue cewek, yang gampang kege-eran?” Agung terkikik dengan bola mata yang melirik ke arah gue.
“Dih, norak tau! Hahaha.” Gue mendongak dan seketika gue bisa kembali melihat wajah Agung yang benar-benar bersahabat pagi ini. Dia senyum ke gue. Nggak berapa lama, tau-tau aja gue udah berada di depan kelas bersama Agung di sebelah gue.
“Duluan, ya!” gue pamit. Dia hanya mengangguk sebagai isyarat.
Gue masuk ke dalam kelas dan mendapati Sinta mengangguk pelan seraya tersenyum di bangkunya. Gue menoleh ke belakang, “Oh, Agung,” gue melihat Agung melambaikan tangannya kepada Sinta sambil tersenyum, “Dia nanyain lo, tuh!”
“Oh ya?” Sinta antusias.
Gue mengangguk, “Yap!”
Hari-hari berikutnya, hidup gue sedikit berubah. Bukan, bukan karena status jomblo gue udah berganti dengan status berpacaran. Gue tetap pada mahkota kejombloan gue, tapi dengan sedikit peningkatan. Peningkatannya adalah gue sekarang menjadi teman curhatnya Agung. Gue dan Agung resmi menjadi teman—entah sejak kapan. Tiap hari dia sms gue. Dan bisa ditebak, Sinta-lah yang menjadi alasan kedekatan kami. Gue bukannya nggak senang melihat Sinta disukai sama cowok, tapi gue kesal kenapa si cowok harus menjadikan gue sebagai Mak Comblang. Gue aja jomblo, masa iya gue harus nyomblangin orang lain?
“Lo beda, ya, sama Sinta. Kalo Sinta orangnya ceria, lucu gitu. Sedangkan lo, sorry nih kalo gue salah, tapi kayaknya lo cenderung cuek, ya? Hehehe. Tapi keren, kok, gue suka cewek cuek-cuek kayak lo gini, nggak gampangan,” ceplos Agung ketika dia minta temani gue ke toko buku.
Gue harus jawab apa coba? Gue aja nggak bisa bedain, dia lagi muji apa lagi nyindir. Dibanding-bandingin tuh emang nggak enak. Kalau udah gitu, gue cuma bisa membalas dengan jurus “hehehe” yang gue punya.
 “Kenapa nggak lo tembak aja?” Semakin kesini, gue melihat Agung semakin akrab sama Sinta. Seharusnya sih Agung udah bisa melancarkan aksinya untuk nembak. Gue nggak tahu pertimbangan apa yang udah bikin dia selabil ini untuk mengambil keputusan.
“Gue belum tau alasan kenapa gue harus nembak dia,” jawab Agung sambil menonton pertandingan basket yang diadakan di sekolah gue. Gue dan Agung berada di depan kelas gue, duduk di bangku yang sengaja gue tarik keluar dari dalam kelas. Sinta tampil sebagai anggota cheerleader yang sedang melaksanakan tugasnya untuk menyemangati anak-anak basket yang sedang bertanding. Sesekali Sinta menoleh ke arah kami.
“Emangnya kalo suka sama orang harus pake alasan, ya? Nggak, kan?” suara gue mencoba membelah riuhnya pendukung masing-masing sekolah.
“Iya. Tapi gue sukanya sama lo.”
Gue mengerutkan alis, “Hahahaha! Gue bukan cewek-cewek yang gampang kege-eran kayak yang lo bilang. Jadi, sorry aja nih, nggak mempan.”
“Tuh kan, gue yakin lo pasti nggak percaya deh. Gue beneran. Gue serius suka sama lo.”
Gue diam. Gue melihat melalui ekor mata gue, Agung mengalihkan pandangannya ke gue. Pelan-pelan gue menghadap Agung yang masih terus memandangi gue. Gue tahu gue lagi nggak nonton ftv. Ini nyata, gue nggak lagi mimpi.
“Lo suka sama gue?” tanya gue untuk memastikan, “Terus, Sinta?”
“Itu, kan, lo yang bikin kesimpulan sendiri. Gue nggak punya alasan kenapa gue harus nembak Sinta. Karena dari awal, gue sukanya sama lo.”
“Hah?”
 Ini sebenarnya gue yang bego apa gimana sih? Agung suka sama gue. Dia nggak suka sama Sinta. Terus, gue suka sama siapa? Nasib Sinta gimana?
“Iya, gue suka sama lo.”
“Oh iya iya, gue ngerti sekarang.”
“Terus?”
“Apa?”
“Ah, lo mah.”
“Apaan?”
“Katanya udah ngerti, terus kenapa masih nanya?”
“Beneran deh, Gung. Maksudnya apa? Terus apa?”
Oke, ini di luar ekspektasi gue. Mana kepikiran di otak gue kalau Agung sukanya sama gue. Gue nggak merasa dia caper ke gue. Lagian, selama ini dia, kan, dekat sama Sinta. Kok bisa suka sama gue, sih?
Asli, gue beneran nggak jago soal beginian.
“Gue suka sama lo, terus lo-nya gimana ke gue?” Agung kedengarannya mencoba sabar banget menghadapi gue yang lemotnya kambuh kayak gini.
“Ya, nggak gimana-gimana. Dari awal gue mikirnya lo suka sama Sinta, mana tau lo suka sama gue.”
“Iya, terus sekarang, kan, udah tau.”
“Iya, tapi gue nggak mungkin langsung tiba-tiba suka sama lo juga, kan?”
Agung diam, nggak membalas ucapan gue lagi. Apa ada yang salah dari kata-kata gue?
“Hmm, ya, bener, sih, yang lo bilang,” setelah beberapa saat Agung kembali bersuara.
Duh, salah ngomong, nih, kayaknya. “Duh, Gung, gimana, ya, susah gue bilangnya. Maksud gue, untuk saat ini, ya, gue belum ada perasaan apa-apa ke lo. Selama ini gue nggak pernah berharap lebih ke lo. Ya, gue realistis aja, yang gue lihat lo dateng ke gue karena Sinta.”
Belum pacaran aja, kok, udah ribet gini urusannya, ya?
“Mau kasih gue kesempatan?”
Gue makin bingung. “Sinta?”
“Ya ampun! Lo ini nggak paham juga, ya? Sumpah, lo nggak peka banget, sih, jadi cewek!” Agung geleng-geleng kepala seraya mengacak-acak rambut gue. “Gue deketin dia biar bisa cari-cari tahu tentang lo, bukan sebaliknya. Dia tau, kok, gue suka sama lo.”
“Oh…” Ternyata gue se-nggak-peka itu, ya. Gue baru paham sekarang.
“Terus? Apa lagi yang masih bikin lo bingung? Pertanyaan gue belum dijawab, nih!”
Kalau posisinya kayak gini, gue harus jawab apa, ya? Ya Tuhan, kenapa gue bego banget soal beginian?!
“Pertanyaan yang mana lagi?!”
Agung membelalak nggak percaya, “Astaga, lo ini. Kenapa gue bisa suka sama lo, sih?!” Ya, mana gue tahu. “Kasih gue kesempatan, ya? Biar lo juga bisa suka sama gue.”
Sebelumnya gue belum pernah pacaran. Bahkan, kayaknya belum ada juga yang terang-terangan deketin gue atau bilang suka ke gue. Ini pertama kalinya, dan ternyata menyenangkan juga, ya, tahu ada yang suka sama gue.
“Ya, pastilah! Nggak ada alasan juga untuk nggak kasih lo kesempatan.”
Agung tersenyum lebar, lalu kembali mengacak-acak rambut gue.

Cerita menuju Bandung


Dua bulan sebelum berangkat, Winda dan Ejak sudah berencana untuk liburan di akhir tahun. Aku diem aja karena nggak ada tabungan sama sekali untuk liburan, saat itu lagi seret-seretnya banget. Singkat cerita, sebulan sebelum akhir tahun iseng cerita ke salah satu oom aku dan beliau mau bayarin liburan kita (aku sama Winda aja loh, bukan bertiga) nanti. Oh, thank God!

Setelah tahu aku bisa ikut liburan, aku jadi semangat 45 hahaha! Tanpa diminta aku mengusul untuk cari daftar-daftar tempat yang wajib dikunjungi, gimana akomodasi kesana dan selama disana, sampai tarif ongkos dan masing-masing tempat wisata. Winda dan Ejak mengurus tumpangan selama disana. Ya, untungnya kita punya teman dan kakak kelas yang bersedia kosannya ditumpangi. Winda kontak-kontakan sama Yuk Yustika, Ejak kontak-kontakan dengan Gatot.

Nah, saat itu oom aku minta data pribadi kita bertiga dan bilang akan mengurus akomodasi keberangkatan kita. Kita berkali-kali mesen sama beliau pesenin bus aja, biar murah dan sekalian kita juga pengen ngerasain backpacker-an gitu. Agak curiga sebenarnya, sampai H-2 kita belum tahu kita akan naik apa dan gimana. Setelah dikonfirmasi, ternyata oom aku pesenin tiket pesawat ke Jakarta dan nyiapin supir langganan beliau yang ada di Jakarta untuk nganterin kita ke Bandung. Di satu sisi seneng tapi prihatin juga, kok malah difasilitasin enak banget gini. Uang saku aja dari beliau, akomodasi masih dienakin juga.

Sabtu, 13 Desember 2014
Berikutnya, hari yang ditunggu pun tiba! Sekitar jam sepuluh kita udah siap mau berangkat ke Bandara. Rencananya mau dianter sama Ayah Ejak tapi begitu udah mau berangkat mobilnya mogok dan kita panik mesti minta tolong sama siapa. Untungnya, Dina lagi senggang dan bisa nganter kita ke bandara. Kurang dari satu jam kita ngebut dari Plaju ke Bandara. Mana oleh-oleh belum dibeli, jadi kita sempetin mampir dulu di salah satu toko pempek. Di mobil cemas banget takut nggak keburu dan ketinggalan pesawat, untungnya kita tiba di Bandara tepat waktu dan masih bisa ikut pesawat. Tapi, begonya adalah, aku kelupaan bawa pempek oleh-oleh di boarding pass saking buru-burunya. Kesel minta ampun! Sia-sia aja ngeluarin duit untuk kasih oleh-oleh dengan resiko ketinggalan pesawat, eh tetap nggak bisa ngasih juga ujung-ujungnya.

Sampai di Jakarta kita udah ditungguin sama Mas Ifan, supir oom aku itu loh. Dia tanya kita mau keliling Jakarta dulu apa langsung jalan ke Bandung. Agak canggung juga awalnya. Pertama, kita nggak nyiapin daftar wisata di Jakarta. Kedua, kita belum tahu ini orang udah dibayar apa kita yang bayar apa udah dibayar tapi kalo keliling Jakarta dulu mesti bayar lagi, kita nggak tahu sama sekali. Akhirnya, ya udah, kita putuskan untuk ke Kota Tua dulu.





Setelah dari situ, dia tanya mau kemana lagi. Bingung lagi, dong. Akhirnya kita bilang mau makan es krim di Ragusa. Ngeselinnya, ini orang ternyata di perjalanan menuju Ragusa ngajak satu temannya untuk ikut kita! Kalian tahu, kan, apa yang kita pikirkan saat itu? Ini dua orang siapa yang mau bayarin?!! Mana selama perjalanan Mas Ifan ini selalu mengeluh-eluhkan oom aku, seolah-olah kita pasti sedermawan oom aku. Cuy, kita disini aja dimodalin!

Dengan setengah hati kita jajan es krim ke Ragusa dan traktir mereka berdua juga. Belum lagi semua tol dan bensin kita yang bayar. Hmm, apakah kita bertiga terkesan pelit? Menurutku rasa keberatan kita itu masuk akal banget. Uang kita minim beneran minim, kita mau liburan satu minggu dan belum juga sampai di Bandung uang kita udah terkuras seperempatnya. Kita kaget aja gitu tiba-tiba ‘ditodong’ untuk bayar ini dan itu yang di luar dari anggaran kita bertiga.

Padahal temannya Mas Ifan ini manis, loh, kayak Rio Dewanto. Mana dia lebih kalem pula. Tapi tetap aja kesal juga. Eh pas masuk Bandung, ternyata mereka juga nggak begitu familiar sama jalannya. Jadi beberapa kali salah jalan gitu. Sebelum mengantar aku dan Winda, kita mengantar Ejak dulu ke kosan Gatot di sekitaran ITB, baru selanjutnya mengantar kita ke Dipatiukur. Kita tiba tepat di depan Unpad Bandung sekitar jam sepuluh malam, dan menunggu Yuk Yustika jemput kita disana, karena katanya kosannya masuk lorong kecil dan mobil nggak bisa masuk.

Setelah Yuk Yustika datang dan kita pamit dengan Mas Ifan dan temannya, kita membeli martabak dulu untuk ngisi perut sebelum tidur hari itu. Nggak nyangka, hari pertama perjalanan kita dari Palembang ke Bandung aja ternyata udah punya banyak cerita, belum lagi selama menghabiskan waktu liburan disana. Masih banyak cerita-cerita seru nan absurd lainnya selama kita di Bandung, jadi kita lanjut di postingan selanjutnya aja, ya!

#1 Tetangga Favorit


"Baru pulang, Ndok?"

Tadi siang aku baru saja tiba dari luar kota, setelah tiga hari menjalankan dinas dari kantor. Tak sempat istirahat, aku langsung melanjutkan pekerjaanku yang tertunda dan telah menumpuk. Dunia kerja memaksaku untuk kaku dan bekerja seperti mesin. Harus terus bergerak agar tak dikira rusak, bisa-bisa diganti dengan yang baru.

Rumah jadi satu-satunya tempat yang ingin aku singgahi segera. Ingin lari sejenak dari dinginnya hawa persaingan, bertemu dengan orang-orang kesayangan.



"Iya, Nek," jawabku sembari menoleh ke arah sepasang kakek-nenek di seberang rumah.

Komplek rumahku sangat sepi, orang-orang keluar rumah hanya saat ingin berpergian dan kembali ke rumah saat sudah petang atau malam. Tidak banyak interaksi di antara kami, terutama karena keluargaku pendatang baru di komplek ini. Seringnya hafal wajah tapi lupa tetangga yang mana dan siapa namanya. Tapi pasangan kakek-nenek penghuni Blok E5 ini tetangga favoritku.

"Kakek-nenek dari mana? Mesra sekali sore-sore begini berduaan, bikin iri saja." Aku menghampiri mereka di seberang jalan lalu sungkem tanda hormat.

Mereka usai jalan-jalan keliling komplek, mencari udara segar katanya. Kami mengobrol sebentar, membicarakan perjalananku ke luar kota kemarin dan pohon mangga milik Kakek yang sedang berbuah. Kemudian mereka mengajakku berkunjung ke rumah mereka. "Ayo, mampir dulu. Nanti Kakek bawakan mangga yang buanyakkk, biar ndak rebutan sama adikmu. Hehehe."

Aku mengekor mereka masuk ke dalam rumah. Binar mata yang dipancarkan oleh kakek-nenek ini membuatku lupa akan lelah.

"Eyang!!!"

Balita lucu berlari kecil menghampiri Kakek yang kemudian menyambutnya dengan gendongan. "Cucu Eyang sudah bangun, toh!"

Kakek memberi isyarat, "Tunggu sebentar."

Hanya sapaan sederhana dari seorang tetangga, mengobrol santai membicarakan mangga Kakek, memandangi kasih sayang di antara mereka... Hal-hal kecil yang kusadari sudah lama tak kutemui di keseharianku. Aku sadar bukan hanya rumah yang kurindukan, namun juga suasana ramah di sekelilingnya.

"Nenek buatkan minum dulu. Kamu duduk aja, istirahat," Nenek mempersilakan duduk.

Aku selalu melangkah lurus ke depan, tak punya waktu untuk menikmati sekeliling melihat ke kanan dan ke kiri. Mengintip kehangatan rumah kakek Suryo rasanya memberiku energi lebih.

"Nek, ada bolu pandan dari Mama di meja dapur," teriak seorang cowok dari ruang keluarga. "Aku numpang nonton film disini, ya. Di rumah lagi banyak tamu."

"Itu, ada Alin di depan. Mbok, yo, diajak nonton juga," timpal Kakek.

Rasanya tidak ada yang tidak akrab dengan kakek-nenek ini. Gani, anak tetangga sebelah yang jarang keluar rumah saja bisa betah main di rumah ini.

"Loh, ada tamu, ya?" Padahal dia juga tamu disini. Galih memanjangkan leher dari balik sofa, "Ngapain disana sendirian? Sini!"

Komplek ini terasa lebih manusiawi karena keberadaan penghuni Blok E5.


Kapan Nikah?

"Kapan nyusul--nikah?"


Nggak nyangka juga, ya, sekarang udah mulai ditanya-tanyain kapan nikah. Kayaknya belum tua-tua amat, tapi udah dirempongin sama pertanyaan itu. Belum juga ilang di telinga rasanya ditanya kapan lulus.

Karena ada beberapa teman yang udah duluan ketemu jodohnya, yang lain jadi suka ngeledekin dengan pertanyaan itu. Apalagi kalau masih jomblo, makin asyik ngeledekinnya.. Mungkin cuma bercanda, tapi ya kepikiran juga.

Well, aku mau bagi pendapatku aja, ya. Ini pendapatku sekarang, detik ini, beda dengan kemarin dan belum tentu sama dengan besok.


Kenapa harus cepet-cepet nyusul? Kalau udah nyusul, terus kenapa? Sebenarnya, konsep yang nggak aku suka dari pertanyaan itu adalah, seolah-olah nikah itu hanya jadi tuntutan sosial dan bagian dari latahnya masyarakat. Seolah-olah kita harus melakukan apa yang orang lain lakukan. Seolah-olah kalau kita belum melakukan hal itu, kita belum cukup "keren". Seolah-olah belum nikah itu "penyakit" sosial bagi manusia berumur 20an ke atas.



Sejujurnya, aku juga salah satu orang yang suka bercanda dengan pertanyaan itu. Tapi aku tersadar pertanyaan itu nggak sebercanda itu bagi sebagian orang. Mungkin sekarang aku masih ketawa-ketawa aja ditanya begitu, tapi nggak akan lama lagi aku pasti akan gerah juga. Jadi, aku coba menyamakan pemikiranku sekarang dan pemikiranku "nanti".


Memang ada sebagian orang yang masa bodo soal pernikahan, belum kepikiran atau memang nggak mau nikah. Aku nggak akan bahas itu. Tapi banyak sekali orang yang sudah siap dan ingin menikah tapi belum juga dikasih jodohnya. Kamu (atau kita), yang tanya-tanya kapan nyusul, bisa bantu apa? Nikah nggak segampang "laper ya makan, ngantuk ya tidur". Ada proses ketertarikan, kemauan, kesiapan, dan keyakinan yang harus dipenuhi. Dan perlu diingat itu bukan menjadi urusan satu pihak saja. Susah loh menemukan orang yang sama-sama tertarik, mau, siap, dan merasa teryakini (ini poin utamanya) untuk dinikahi dan menikahi. Nggak ada kepastian akan jadi seperti apa hidup di masa depan nanti, itulah kenapa orang-orang susah merasa teryakini "Oke, gue mau nikah sama ini orang".

Sebenarnya kita semua tau bahwa nikah itu nggak sesederhana dan seenteng bertanya kapan nyusul--nikah. Tapi kita suka lupa kalau pertanyaan itu menyentuh sensitivitas banyak orang, karena balik lagi, nikah nggak sesederhana itu. Kalau bisa kan sekali seumur hidup, masa iya mau seenaknya "yang penting bisa makan hari ini, besok urusan besok".

Nikah itu bukan susul-menyusul dan main cepet-cepetan, bukan untuk pemuas kebutuhan sosial--dan ekonomi juga. Kalau ada yang udah nikah duluan, ya syukur, tapi kayaknya kita nggak perlu lagi deh repot-repot "ngingetin" orang lain.



Well, this is not only for you, but me too. Daripada tanya kapan nyusul--nikah, mending doain biar cepat didekatkan sama jodohnya. Jadi, orang lain nggak tanyain kita kapan nyusul--nikah, tapi justru doain kita biar cepat didekatkan sama jodohnya.

Si Antagonis


Aku tau konsekuensinya menjadi penghilang bosan seseorang yang telah berpasangan. Memang salahku telah memberimu cela, sekarang aku susah--dan sungkan berhenti.


---



Kisah cintaku tak pernah pasti. Begitu juga kali ini, aku masih saja menjalani hubungan tanpa status dengannya, tapi dengan sadar juga menikmati peran sebagai antagonis dalam hubungan orang lain. Gilanya, kami semua berada di lingkaran pertemanan yang sama. Tak terhitung berapa kali aku mengutuk diriku sendiri untuk semua keadaan rumit ini.



Tapi...



Bukan aku yang memulainya, sungguh. Sama sekali tak ada niat untuk menjadi jahat seperti ini. Lingkungan yang membuatku begitu saja satu jengkal lebih dekat dengan pacar orang, lebih akrab lagi dan kemudian makin hanyut terbawa perasaan.



Sekali saja, bolehkah aku membela diri?



---



Keadaan menuntunku.
Aku tengah lelah dan berulang kali ingin menyerah atas hubunganku dengannya yang tak pernah sampai pada titik terang. Kemudian kau datang menjadi peredam atas perasaan meledak-ledakku karena ketidakpastian hubunganku. Di sisi lain aku tau, aku juga membantumu menghapus penat dengannya, kan?



Hhh, simbiosis mutualisme yang aneh memang.



Padahal kita hanya kebetulan tumbuh di hubungan yang tak sehat dan mencoba bersenang-senang sesekali. Sayangnya kita lupa bahwa sesekali yang terlalu sering akan menjadi sebuah ketergantungan. Sekarang aku tidak bisa mengabaikanmu, tapi juga tak bisa meninggalkannya.

Tak Butuh Dinding


Kau mendekat padaku yang kecil nyali. Katamu, jangan banyak berpikir kalau berurusan dengan rasa. Tapi karena itulah aku semakin berpikir.


Aku ingat senyum hangat dan tatap tulusmu mencoba mencairkanku, sama sekali tak mengira akan begini jadinya. Aku tidak biasa menerima basa-basi cinta, tidak suka mendayu-dayu karena seorang pria. Tapi denganmu, mengapa semuanya sah-sah saja?



Diam-diam aku suka caramu menggoda, meski tak tahu bagaimana membalasnya. Laku indahmu menggoyahkan dindingku. Aku belum percaya pada ketulusan rasa, tapi sepertinya aku mulai percaya padamu.



Untukmu, seseorang yang tak kukenal sebelumnya, tapi menemuiku di mimpi tadi malam: Bolehkah kita bertemu sungguhan? Agar aku yakin aku memang tak butuh dinding lagi.

Sahabat?


Dia itu sahabatku, setidaknya dalam empat tahun terakhir. Setiap hari pergi ke kampus bersama, menghabiskan waktu di dalam bis dengan saling bertukar cerita. Tapi, mungkin ini perasaanku saja--aku memang sering merasa-rasa sendiri, ada batas diantara kami. Seperti ada dinding tinggi memisahkan kami.


Meskipun selalu berbagi cerita setiap hari, aku masih punya cerita yang tetap kusimpan hanya untukku sendiri. Dia tidak boleh tahu, jangan sampai tahu. Dia, apalagi. Dia hanya menceritakan kesehariannya saja. Dia tidak pernah membahas perasaannya, maksudku tentang kegelisahannya atau sesuatu yang membuatnya bersedih. Seolah kami ada hanya untuk bersenang-senang.

Sepertinya aku bukan sahabat yang baik untuknya. Aku tidak akan bertanya jika Dia tidak memulai. Aku tidak akan memaksa jika Dia tidak mau bercerita. Aku tidak akan menyentuh sesuatu yang kelihatannya tidak boleh kusentuh. Menurutku, begitulah cara tersopan menjadi sahabat. Tapi, belakangan aku mulai ragu. Sudah benarkah aku memperlakukannya? Bagaimanakah caranya menjadi sahabat yang baik? Apa aku ini sahabat baginya?